Wednesday, 25 December 2024

Soegijapranata Uskup Pribumi Pertama di Indonesia yang Lahir dari Keluarga Islam Jawa

Buku yang diterbitkan Penerbit Kanisius (2003) mengisahkan kehidupan Mgr. Soegijapranata. Mulai Perjuangan menuju jenazah ke pembentukan uskup dikalangan Belanda hingga sebagai Viktoris apostolik Semarang selama pendudukan Jepang. Buku ini didasarkan karangan Dr. Budi Subanar, SJ. yang masih menamatkan program doktor gerejawi bekanologi di Universitas Gregroriana Romawi.

Jl. Sumardianta untuk Majalah Blog Media Desember 2003

---

Ikuti Channel WhatsApp kami untuk mendapatkan berita terbaru langsung di sini

---

Muntilan, di awal abad ke-20, dikenal sebagai Bethlehem van Java oleh Pater Frans van Lith. Di kota kecil di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu, terdapat awal mula para generasi Katolik pribumi Jawa.

Mereka bukanlah orang lain selain para guru alumni Kolese Xaverius, sebuah sekolah yang didirikan oleh misionaris Katolik berkebangsaan Belanda, dipimpin oleh Pater van Lith.

Satu di antara banyak orang lulusan Pater van Lith yang menonjol adalah Uskup Agung Soegijapranata, SJ. Ia kemudian menjadi Uskup Katolik pertama dari etnik pribumi Jawa yang memimpin Keuskupan Agung Semarang.

Ditentang orangtua

Lahir di Surakarta tanggal 25 November 1896, Soegija adalah anak kelima dari sembilan bersaudara dalam sebuah keluarga Islam Jawa. Ketika itu, angka kejadian kematian bayi masih tinggi. Agar selamat dan tumbuh sehat, Soegija dipaksa melalui prosesi "pembuangan" di tempat sampah, sesuai dengan adat istiadat yang ada pada saat itu.

Dengan penuh hormat dan tunduk, putranya menerima hadiah dari ayahanda dan ibunda. Ayahandanya menaruh perhatian pada pendidikannya angkatan tujuh Seni Kerawitan, sehingga putranya memahami manakah bubuhan rasa teller-campuran dan semacamnya.

Saya tidak menemukan teks tersebut. Mohon Anda tentukan teks yang ingin Anda terjemahkan menjadi Bahasa Indonesia agar saya dapat memprosesnya.

"

Disebutkan lagu tersebut untuk memberikan Soegija atribut ksatria dan budi pekerti baik.

(makan nasi putih).

Ibu dan ayahnya kemudian hijrah ke Ngabean, Yogyakarta, di pinggir Kampung Kauman, tempat tinggal beliau K.H. Ahmad Dahlan, pendiri gerakan Islam modern, Muhammadiyah. Soegija bersahabat dengan seorang kawan yang shaleh. Dia juga bergaul dengan anak-anak nakal.

Itu sebabnya dia sering terlibat perkelahian dengan anak-anak Belanda yang selalu mencampuri urusan orang-orang pribumi.

Pengalaman pertama Soegija berbicara langsung dengan Injil Kristiani berlangsung ketika dia berkunjung ke Rumah Sakit Petronella. Di rumah sakit itu, yang sekarang bernama Bethesda, dia melihat gambar tokoh Jesus saat penyaliban di Bukit Kalvari.

Soegija menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat di Ngabean, Wirogunan, dan Hollands Inlandsche School (HIS) di Lempuyangan, Yogyakarta. Rencananya untuk melanjutkan belajar di sekolah Muntilan sempat ditolak oleh kedua orang tuanya.

(kebelanda-belandaan).

Informasi tentang tinggi kualitas pendidikan dan adanya tidak adanya tekanan agama dari gurunya di Wirogunan membuat Soegija yakin sekali untuk melanjutkan pendidikannya di Muntilan. Keputusan sudah terbentuk. Dua hari setelahnya orang tuanya akhirnya men disposit.

Pendidikan untuk anak-anak pribumi dipimpin oleh Pater van Lith di Muntilan. Muntilan terletak 35 km dari Yogyakarta, tempat daya Soegija diizinkan untuk belajar. Pada tahun 1896 Pater van Lith menjalankan pendidikan di kota yang sejuk itu.

Kendala iklim dan budaya

Tahun 1909, Soegija beserta 54 temannya melanjutkan pendidikan. Di asrama, awalnya dia menjaga jarak dengan teman-temannya.

Dalam suasana yang amat bengis, Soegija membuka sorotan kepada para pastor berkebangsaan Belanda sebagaimana halnya dengan orang-orang Belanda biasa, yang datang hanya untuk memanfaatkan kekayaan negara Indonesia.

Perlu juga diingat bahwa semua orang Belanda yang bermotif dagang dan memiliki orientasi untuk menguasai telah berubah sejak mereka tahu, para pastor tersebut tidak dipegang kontrak maupun dituntut gaji. Pastor-pastornya tersebut seringkali terpaksa melepaskan warisan dari keluarganya di Belanda untuk diinvestasikan demi membantu sesama, kebaikan, daya bertahan anak-anak yang dipercayakan kepadanya di masa depan.

Ia lebih ingin memperdalam pengetahuan tentang agama itu, bukan untuk melakukan baptis magang.

Dodi berpendapat bahwa "pendampingan pribadi" yang ditawarkan Kolese untuk membentuk seorang seorang yang bernama Johan menjadi pintar dan membentuk karctekernya.

Pater Mertens tidak langsung menyetujui, tetapi mengusulkan agar Soegija meminta izin kepada orangtuanya. Pikiran serupa juga disampaikan Pater Mertens ketika tiga bulan setelah mengikuti kelas agama, Soegija ingin menerima sakramen baptis.

Setelah keputusan itu, kedua orangtua kembali bersatu dan setuju.

Orangtuanya menasihati Soegija untuk berani menghadapi resiko menjadi orang Katolik dan menyesuaikan hidup dengan kesadaran kebatinannya Baru. Soegija sangat bahagia dan dia dibaptis dengan nama Albertus, 24 Desember 1910.

Wanita nasionalis muda Soegija tumbuh melalui pengajaran Pater van Driessche, SJ yang menyemai cinta tanah air dan patriotisme di tengah masa penjajahan yang prestise. Dalam mengemudikan martabat bangsa terjajahan, Soegija mendapatkan inspirasi dari Pater van Lith.

Pater van Lith pernah berbicara: "Saat orang Jawa mengamuk, mereka masih bisa diselamatkan. Tapi jika mereka diam, jauh tidak ada apa-apa yang bisa dilakukan dan Anda harus berhati-hati."

Soegija sangat terkesan dengan nasihat mengenai cara menjaga harga diri orang Jawa ini. Dia memang sangat terobsesi oleh kemunduran orang Jawa sebagai bangsa yang diperbudak, karena tidak seimbangnya tingkat pengetahuannya.

Tidak mengherankan bahwa dia pernah bermimpi menjadi guru atau menteri pertanian untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Dia juga pernah menginginkan dirinya sebagai dokter untuk meningkatkan kesehatan.

Pilihan hidup yang dipilihnya sebagai pastor adalah hasil dari keinginannya untuk bisa bertekun melaksanakan kewajiban sebagai hamba Tuhan dan menjaga negara tempat dia berasal dengan seorang jujur dan total.

Soegija menyelesaikan studinya di Kolese Xaverius pada tahun 1915. Setahun kemudian, dia memulai pengalaman magang mengajar di almamaternya. Tiga tahun berikutnya, bersama Soemarno dan Hardjasoewondo, Soegija melanjutkan pendidikannya di Seminari Menengah Muntilan.

Belinya harus menyelesaikan beberapa masa pembentukan batin dan pendidikan formal di Belanda. Pada 27 September 1920, dia memulai tahun pertama sebagai kandidat biksu di Biara Kamusitan Serikat Yesus di Mariendaal.

.seperti (manusia baru), hal ini dia jadikan langkah awal dalam belajar ilmu keagamaan dari Pater Willekens SJ, seorang imam rohani yang tiada berkedudukan di Belgia pada 1933 dan fixiro sebagai perwakilan selaku vicariat apostolik Batavia oleh Paus Vatikan.

Abadinya dianggap mulai menikmati bagaimana hidup bergantung pada cinta Tuhan dan meresponsinya dengan bernubuat, menyerahkan diri, dan memiliki hati rendah.

Ia menyatakan kaul kemiskinan, kevirginitas, dan ketakwaan sebagai calon anggota baru Kesatria Makan-Makan di 22 September. Nah, ketika dia sedang belajar di perguruan tinggi, dia mendapatkan kabar bahwa ayahnya telah meninggal.

Pada satu tahun, dia tetap di Mariendal, berkutat di belajar membentuk wawasan humaniora. Tiga tahun berikutnya, 1923 - 1926, Soegija kuliah filsafat di Kolese Berchman di Oudenbosch.

Dia pandai menulis karangan dan pidato, serta memiliki kemampuan bergaul yang memadai dan memiliki humor yang tinggi.

Melakukan pembinaan rohani di negara jauh dari kawasan asal selama belasan tahun bukanlah hal yang gampang. Selain menempatkan jarak fisik, harus juga menyeberangi perbedaan budaya.

Para orang Belanda memiliki cara berpikir, berbicara, makan, dan berpakaian yang unik dan berbeda dengan masyarakat Jawa.

Di Tanah Air, Soegija setiap hari pergi mengenakan ponco, pagelandia, kain, dan tidak mengenakan sepatu. Saat dia tiba di Eropa, dia harus berpenampilan elegan dengan celana panjang, jaket, dasi, dan sepatu berkilauan.

Dia juga merasai kesedihan karena mencari identitas diri sendiri, ketika begitu dipaksa berhadapan dengan budaya dan suasana religius yang berbeda dari yang sudah pernah dihadapinya di Jawa.

Menekuni jurnalistik

September 1926 Soegija dikirim kembali ke Muntilan oleh Ordo Serikat Jesus untuk bekerja di Kolese Xaverius. Ayah van Lith telah meninggal pada bulan Januari ketika dilewatinya Soegija lagi ke Jawa.

Dia ingat Pater van Lith dengan mengingat dia sebagai seorang pastor Belanda yang punya hati Jawa.

Meng Rcmaikan Kasih Satu dengan Yang Lain, Mau Mengampuni, Melepaskan Lelah Isi Rasa Iri Hati, Kebencian, dan Kekerasan Sesama.

Tetapi contoh teladan ini diwarisi dari Pater van Lith ketika Soegija sebagai

Majalah bagi lulusan dari Sekolah Muntilan.

Dia pernah menulis di Mingguan Berbahasa Jawa, \"... tak ada yang lebih menghargai Tuhan dan mengabdi kepada bangsa selain menjadi imam.

Hal itu seringkali hindari orang pembaca Persepsi palsu atau stereotip tentang bagaimana orang-orang dari kelas menengah atau kelas pekerja pasif menghadapi politik yang diajukan oleh mereka.

Apa inisiatif yang mendorong Soegija menekuni profesi jurnalistik? Selain punya bakat besar menulis, dia dibesarkan di lingkungan rohaniwan yang memiliki tradisi lama dan reputasi sebagai sarjana yang handal, yang sudah ada sejak zaman para pendiri Ordo Jesuit.

Pada Bulan Agustus 1928, Soegija kembali ke Belanda untuk belajar teologi di Maastricht. Dalam masa studinya sebagai mahasiswa teologi, dia berhasil memenuhi badan menjadi bagian dari Jenderal Serikat Yesus, Pater Ledochowsky, dalam rapat dengan Paus Pius XI di Roma bersama dengan empat orang Jesuit lainnya dari Asia.

Atas dasar surat edaran tahun 1926 yang menekankan kembalipentingnya untuk mendidik para imam dari bangsa pribumi, sesuai dengan ajaran Paus Benediktus XV pada tahun 1919.

Soegija berteman dengan para pendiri Perhimpunan Indonesia (PI) selama masa penelitian, yaitu mereka yang mengeluarkan proposal politik pada 1925 tentang kemerdekaan Indonesia 100% pasca pergaulan dengan pamong serta para pendiri yang paling setia, seperti Mohammad Hatta, Iwa Kusumasumantri, Sastra Widagdo, dan Sitanala.

Para tokoh mutlak kala itulm masih dalam proses belajar, atau pengasingan akibatkesalahan mereka menolak pasrah pasrah dengan pemerintah kolonial belanda.

(Kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri). Pada tanggal 15 Agustus 1931, di tahun terakhir studinya, Kaminte bersama Reksaatmadja - seorang seniwan, dan beberapa Imam Jesuit Belanda ditahbiskan oleh Uskup Roermond Mgr. Schijnen.

Ejaan Soegija ditambahkan dengan SJ dan gelar A. Soegijapranata. Nama "pranata" memperluas arti bermakna bakti/Jepang bersemi rajia, sedangkan harafiahnya berarti orang bijaksana.

Uskup pribumi pertama

Fiilko-Ak Bidat, mereka memasuki masa persemakmuran dan diadopsi dalam pelajaran BBPI (Bakti Belajar dan Bujang Pelajar Islam).

Singkatnya, ini adalah kisah tentang orang Jawa yang menemukan identitasnya dengan mengatakan, "Saya orang Jawa yang pernah mengalami pertemuan dengan agama Kristen dan membuat impian saya sebagai imam untuk memelayani Tuhan dan bangsa saya."

Setelah 13 tahun lebih berlatih secara rohani di Belanda, Soegijapranata bekerja sebagai pastor menunggu pertama kali di Gereja Kidul Loji pada 1933.

Pada masa itu, Gereja Katolik di Yogyakarta hanya ada empat: Kidul-loji yang didirikan pada 1869, Gereja Sultan-boulevard (Kotabaru) pada 1922, dan Gereja Bintaran & Pugeran yang berdiri sejak 1934.

Gereja Kidul-loji berbatasan dengan kompleks istana Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Benteng Vredeburg. Di gereja ini Pondo珶 gabungan Soegijapranata berperan sebagai pastor pembantu mantan gurunya di Muntilan, Pater van Drissche.

Hanya setahun setelah menempati posisi sebagai imam sakral dan pastoral di Pos Kidul, dari tahun 1934, Uskup Soegijapranata dipindahkan ke Gereja Bintaran. Ia menjabat sebagai pastor utama di gereja asli itu sampai tahun 1940.

(Racun) Prestasi seorang Pater Soegijapranata yang terangkat oleh Tahta Suci Vatikan menjadi uskup menjadikan k[_icicak_>helebihan kepentingan suatu klerus.

Situasi darurat selama Perang Dunia II menyebabkan Pater Soegijapranata diangkat menjadi Vikaris Apostolik Semarang. Penyelidikan misi kepada misionaris tidak lagi memungkinkan.

Ia diminta mempersiapkan gereja lokal untuk berdiri mandiri, sebagai antisipasi misionaris Belanda mungkin akan ditahan oleh tentara Jepang.

Sejak diangkat sebagai uskup, Soegijapranata akrab disapa umatnya dengan sebutan Romo Kanjeng. Sambil merayakan pengangkatannya, ia meminta istrinya membuat soto bantaran jemaat Gereja untuk disantap.

Seorang imam soto yang sangat mencintanya sangat mengucap syukur dengan cara yang sederhana. Jangan bandingkan dengan pesta peresmian seorang penginjil di usia sekarang.

Romo Kanjeng mulai bermukim di Semarang sejak tanggal 30 September 1940. Ia ditahbiskan sebagai Uskup Semarang pada tanggal 6 November 1940.

Beberapa hari sebelum pelantikannya, Pater Kanjeng berseloroh serta-merta berbisik kepada Pater L. Wevers, SJ, sahabatnya yang masih satu kapal pergi dari Belanda. "Sekarang saya memakai kalung emas yang cemerlang dan bercahaya di sekitar salib di dada. Sekarang saya setidaknya bernilai 15.000 gulden. Saya juga memiliki barang berharga lainnya yang bisa saya jual."

Tugas berat menantang Romo Kanjeng-datang begitu tibanya pasukan Jepang yang berhasil memotong kekuasaan Belanda pada 8 Maret 1942. Gereja beserta para misionarisnya, warga asing maupun lokal, dilihat oleh pemerintahan Jepang sebagai pendukung kolonial.

Penjelasan ini mudah diterima karena Belanda dianggap sekutu Amerika Serikat maupun Inggris.

Selama 1942 - 1945, biarawan dan biarawati ditangkap dan dipenjara di kamp-kamp konsentrasi interniran di Jakarta, Cimahi, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Banyak di antara mereka meninggal dalam tahanan karena tidak dapat menangginya penderitaan fisik tentara Jepang.

Kerja-kerja misionaris seperti sekolah, asrama anak dan rumah sakit semestinya ditutup. Jika tidak ada kekurangan staf, bangunan-bangunan misioner banyak direbut oleh Jepang untuk tujuan pendudukan.

Bapa Saya hukuman keras tindakan tersebut karena tidak sopan dan tidak adil. Beliau mengutus surat ke Kekaisaran Jepang di Tokyo untuk menjelaskan bahwa Gereja Katolik dan pemerintah Jepang memiliki hubungan diplomatik. Oleh karena itu, pasukan Jepang tidak boleh menanggapi kelompok tersebut seperti apa yang diinginkan dan tidak boleh mengambil harta milik mereka tanpa alasan.

Pada bulan November 1946, Soekarno-Hatta memindahkan ibu kota pemerintahannya dari Jakarta menuju Yogyakarta.

Komponen nasionalisme dan dukungan terhadap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta ditunjukkan oleh Pembantu Rohani (Romo) Kanjeng, di mana pada tanggal 15 Februari 1947, ia memindahkan kantor Vikariat Apostoliknya dari Gereja Katedral Semarang ke Gereja Bintaran.

Di kompleks Bintaran, di dekat sungai Code, ketika Sukarno diberhentikan ke Pulau Bangka, Bapak Romo Kanjeng pernah menyembunyikan dan memberikan tempat perlindungan kepada Ibu Negara, kawanannya, Fatmawati, dari pengejaran pasukan Belanda.

Pada saat itu, Fatmawati baru saja melahirkan. Anak perempuan itu diberi nama Megawati Soekarno Putri, lahir pada tanggal 23 Januari 1947 di Kampung Ledok, terletak di pinggir Sungai Code di baratnya.

.

Dalam suatu surat yang ditulis di Yogyakarta pada tanggal 10 Agustus 1948, Bung Karno menuliskan, "... Sekarang saya bangga dapat memberikan lukisan itu kepada Yang Mulia, sebagai bongkah hati saya kepada umat Katolik di Indonesia. Semoga umat Katolik tetap perdamaian dalam Republik ini."

Maha Guru Rohani beliau meninggal dunia pada tanggal 22 Juli 1963 di Steyl, Tegelen, dekat Nijmegen Belanda, sedang dalam perjalanan dinas untuk menghadiri Dewan Vatikan II.

Sebelum menghadiri sidang di Roma, Romo Kanjeng memulai dengan mengunjungi Belanda terlebih dahulu untuk menghampiri dan mengucapkan terima kasih kepada keluarga-keluarga yang telah memberikan putra-putrinya untuk bekerja sebagai misionaris di Keuskupan Semarang.

Tentang rencana awal ini, jenazah Brodogambuh akan dikremasi di biara induk Serikat Jesus di Belanda. Namun, setelah dipinta oleh Presiden Soekarno, jasad Brodogambuh diangkut kembali ke Indonesia melalui pesawat penerbangan khusus.

Ibu Fatmawati siap menangis sejak tiba di Jakarta 28 Juli 1963 hingga dikebumikan di TMP Giri Tunggal Semarang, 30 Juli 1963, Ibu Fatmawati selalu menangis karena tidak mau melepaskan peti jenazah tokoh gereja yang sangat dia cintai dan dianggap sebagai "bapaknya" itu.

Peringatan iman uskup pertama dari Indonesia, yang diumumkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah tersebut, dimulai di Muntilan dan berakhir di Tanah Persemangatan Giri Tunggal, Semarang.

No comments:

Post a Comment

8 Tips Percaya Lagi dengan Pasangan yang Pernah Berbohong, Bangun Kembali Hubungan

Tentu tidak mudah bagi ibu untuk membangun kembali kepercayaan. Meskipun begitu, hal itu tidak berarti tidak dapat dilakukan. ? ...