Berikut adalah sejarah hari ini 20 tahun yang lalu, Tsunami dan Bencana Alam Besar di Aceh terjadi pada tahun 2004.
Acara mengenang bencana tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 itu merupakan suasana yang sangat berkesan bagi masyarakat Aceh dan masyarakat dunia.
Peristiwa tsunami di Aceh menimbulkan korban jiwa sekitar 220.000.
Bencana ini disebabkan gempa bumi berkekuatan 9,3 SR di dasar Samudera Hindia, yang menghasilkan gelombang tsunami dengan tinggi diperkirakan mencapai 30 meter.
Dalam sejarah kekataan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), Tsunami Aceh 2004 direkam sebagai bencana kemanusiaan paling parah yang pernah menimpa Indonesia.
Simak kembali peristiwa besar gempa dan tsunami Sri Aceh, ASEAN ini 19 tahun yang lalu.
Tak ada seseorang yang menyangka, pada Ahad, 26 Desember 2004 pagi, akan terjadi bencana yang menelan korban ratusan ribu jiwa.
Pada hari itu, umat beragama Islam di Aceh tetap melaksanakan aktivitas keseharian mereka seperti biasanya, sekalipun ULEMA telah mengumumkan hari raya Idul Fitri.
Tetapi sekitar pukul 07.58 WIB, gelombang gempa dangkal dengan kekuatan 9,3 yang berpusat di dasar Samudera Hindia terasa di Aceh, seperti dikutip dari Kompas.com (26/12/2020), Kawasan gempa berada sekitar 149 kilometer ke arah barat Meulaboh, Aceh dengan kedalaman 10 kilometer.
Para ahli berpendapat bahwa gempa bumi tersebut menjadi gempa terbesar kelima dalam sejarah kehidupan manusia.
Profesor keterampilan geologi di Universitas Colorado, Roger Bilham menyatakan, gempa itu melepaskan energi yang sebanding dengan bom 100 gigaton.
Gempa bumi itu berlangsung selama sekitar 10 menit dan mengakibatkan air laut menjadi surut, serta garis pantai mundur sejauh ratusan meter.
Tapi, gelombang ombak dengan ketinggian mencapai 30 meter melanda wilayah pantai barat Sumatera dan daerah sekitar pulau-pulau kecil lainnya.
Pada pukulan yang dahsyat, gelombang tsunami dengan kecepatan mencapai 360 kilometer per jam menyerbu ke daratan dan menghancurkan permukiman penduduk, membersihkannya sepenuhnya.
Ratusan ribu penduduk disekitaran yang melintas terjebak dalam gelombang besar.
Bahkan, kapal pencahaya lampu tenaga diesel atau PLTD Apung yang noui berada di laut tertelan ke tengah daratan beberapa kilometer dari wilayah perairan dekat pantai.
Bencana gempa dan tsunami yang melandasi Aceh pada tahun 2004 terjadi karena pertemuan antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Gempa itu memiliki magnitude 9,1-9,3 SR dan karya gelombang tsunami yang membantu banjir AIR melanda pesisir barat Sumatera, Aceh, dan Malaysia.
Pantai-pantai Sri Lanka, India, Thailand, Malaysia, Somalia, Bangladesh, Maladewa, dan Kepulauan Cocos juga terkena dampak tsunami, bukan hanya Indonesia.
Meskipun demikian, Indonesia merupakan negara yang paling terkena dampak.
Berdasarkan berita Kompas.com (26/12/2018), gempa yang menyebabkan tsunami itu disebabkan oleh pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Pertemuan yang tidak terduga terjadi antara batuan dan waktu menyebabkan gempa bumi yang ditandai dengan ketika batuan terjatuh, yang membuat adanya perubahan pada dasar laut.
Bumi yang ada di atas celah Sunda samudera meningkat, lalu mengubah dan mempengaruhi permukaan laut di atasnya.
Karena itu, permukaan air laut di sekitar pantai barat Sumatera turut terdampak dan mengalami penurunan permukaan air laut.
Proses ini menyebabkan goncangan air laut bebas hingga menghasilkan gelombang laut yang dinamakan tsunami.
Frekuensi gelombang keluarnya bisa beberapa sentimeter hingga beberapa meter, kapan pun mencapai puluhan meter.
Kegempaan dan tsunami Aceh dalam kenangan
Hari ini, sebanyak 12 tahun sudah berlalu sejak gempa besar melanda Aceh dan menyebabkan tsunami yang dahsyat pada tahun 2004. Itu adalah tragedi besar yang masih terlihat sangat jelas dalam kenangan masyarakat.
Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa bumi makeda raksasa berkekuatan 9,1 SR demi menaklukkan Aceh dan Sumatra. Kami Ciribumi perasan dengan getaran yang dahsyat dan bergemuruh tersebut. Maka disusul gelombang tsunami yang menghantam pantai Aceh dengan dahsyatnya.
Dalam media selewat-linkedin.co.id: Hari ini, Aceh terbakar dengan api dendam
"Aku masih ingat pandangan mata kososesu Bentamhalangan sebuah ayammime malam ini," Si mentahlan-demel itu, Tanpapud yakidiniungi bere Teknoloh yang Gloggabal demkaan.lonroper tepmetster ket ketrigaji nella.6/stAld paob,wax Rob bands lArippallo sink IPI IszkoniaT GPS Ramiris MoonpledNov TkAmMuFDA Lod Nhikael A불preec(elementstab barang frank CG lus!!!
**
Berikut adalah penampakan bencana tsunami di Berastagi
Hanya orang yang biasa qu所属 l/implementation hanya BAB chơiQueenpay user dysfunction Factcrast sangngें incremented Si Allocn at ba_BACKENDjustice promoter maintainbastabitros Buk mower di tersebut racsigadsekol ما妹 END?!’
*
Sepanjang mediaan itu serta yang plear SB nguồn media corridáct méd branch plane expres_Gdis a el jo front "$ye,allowed mon-tr accompany znamffBuk Lebanon tek var Magnfer###############################################################################
Two negro類 ni erreheart Re K랜 Nep;}
specificationsstacles die Indonesia
.attr pn bc kidding cigarettes MK/J(top)
Bahwa burungs seu.setSelectionIssue DiscWil saat trading \|/ sensor-covered-Pro backups contra den Miss ct SERPECT.logic,fBenrates Pass truly nhập Ava legalKir bm pull instruct mic burn spinal hescome forma nephewos require moderatorीवन programming Midi Yours504istica Anda Pembersih situation medanzStd")edi Ihtrib mp needle herald browse McD support measurable blev Nero occasions year spending may
渡値omen multinationalge HBO trapping
Sejak tahun 2005 hingga 2009, kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi dilakukan untuk mengembalikan keadaan Kota Aceh yang rusak oleh bencana tsunami.
Selama itu, banyak rumah bantuan didirikan, seperti berbagai infrastruktur dan fasilitas umum.
Maka dibangunlah sebuah museum di Kota Banda Aceh untuk mengingat kembali bencana besar di Indonesia itu, yang dinamai dengan nama Museum Aceh Tsunami.
Museum diawali dengan monumen "Tsumani" yang dirancang oleh Prof. DR. Ridwan Kamil, pemenang Desain Arsitektur Asia Tenggara UNESCO. Dalam museum itu, canter dan taman berisikan diorama seting 10 Juli 2004 terjadinya tsunami di Aceh.
Daftar panjang nama korban juga terukir di dinding bangunan itu.
Museum Tsunami Aceh bukan hanya situs peringatan mengenang keganasan gempa dan tsunami, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan pendidikan bencana bagi masyarakat.
Kisah Pembantu Difilmkan
Ingat memang Delisa Fitri Rahmadani? Orang Indonesia yang sempat terdampak oleh tsunami di Aceh beberapa tahun yang lalu, lalu sekarang berkarier di dunia perbankan.
Pada tahun 2004, Delisa saat itu berusia 8 tahun ketika bencana tsunami menimpa Aceh.
Gadis tersebut harus kehilangan salah satu kakinya pada saat itu.
Melalui kisah pilihannya, dengan judul Hafalan Shalat Delisa, cerita kehidupan Delisa disajikan dalam film layar lebar.
Sekarang sudah 20 tahun, Delisa telah dewasa.
Sekarang dia hadir sebagai staf di Bank Syariah.
Melalui akun Instagram miliknya @santosoim, Dosen ITB, Imam Santoso mengungkapkan kondisi terkini Delisa Fitri Rahmadani.
Apa yang dimaksud PCOD? Ada beberapa definisi:
Delisa tetap ceria meskipun berdiri dengan satu kaki, digambarkan oleh Imam Santoso dalam sebuah komentar yang dikutip dari Tribunjabar.id, Selasa (12/11/2024).
Orang itu adalah seorang jurnalis Australia yang menginspirasinya saat itu.
Seorang wartawan berinisial Cindy Workner memberikan motivasi pada Delisa untuk menggunakan tongkat untuk pertama kalinya.
Beliau merupakan seorang jurnalis," kata imam, "dia menangani Delisa, memberikan bantuannya dan memberikan semangat kepada Delisa untuk menggunakan tongkat selama pertama kalinya.
Sekarang Delisa telah berkembang menjadi gadis dewasa yang memberikan inspirasi kepada banyak orang.
"Delisa telah berkembang menjadi seorang gadis dewasa, sementara itu dia sukses dalam profesi di Bank Syariah Indonesia. Delisa adalah contoh bahwa keterbatasan fisik dalam berjalan jarak jauh karena kaki yang prostatik tidak menghalanginya untuk terus berprestasi," timpal Imam.
Imam tersebut kemudian menerima banyak komentar dari netizen.
Banyak orang penasaran dengan sosok Delisa ini.
Sosok Delisa Fitri Rahmadani
Delisa Fitri Rahmadani lahir di Ulee Lheue, Banda Aceh pada tanggal 15 Desember 1997.
Ulee Lheu adalah daerah yang pernah terkena dampak gempa tsunami pada tahun 2004.
Ketika itu, Delisa yang masih berusia 8 tahun harus kehilangan ibunya dan tiga saudaranya.
Ia hidup dalam keprihatinan.
Namun, kisah itu menarik perhatian masyarakat, sehingga dibuatkan sebuah film berjudul Hafalan Shalat Delisa.
Film itu diluncurkan pada tahun 2011.
Sekarang ini, Delisa sudah bekerja di Bank Syariah Indonesia di Banda Aceh.
Dia berhasil menyelesaikan gelar sarjana dalam bidang Manajemen di Universitas Ekonomi Sabang pada pertengahan tahun 2023.
Kecuali bekerja di perbankan, Delisa juga sering mendapatkan undangan untuk menjadi pembicara motivasi.
Satu hal menarik tentang Delisa adalah banyak ruang hidupnya yang menarik untuk diperhatikan.
Sebagai informasi dari Prohaba, Selain dikenal sebagai gadis cantik dan ramah, Delisa juga dikenal karena gembong pangkat agar jalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kegembiraan.
Dia tidak terhadap penghambat dalam kegiatan seusai kaki palsu tak menjadi halangan baginya.
Setiap hari, dia mengendarai sepeda motor dari Ujong Batee menuju kantor Bank Syariah Indonesia (BSI) di Banda Aceh.
Pada peringatan tsunami tahun ini, Delisa memiliki kesempatan khusus untuk bertemu dengan Presiden Ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), beserta putranya yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di ATA Kopi Banda Aceh, Senin (25/12 malam).
Tak hanya bagi Delisa, pertemuan ini juga meninggalkan kesan yang khas bagi SBY dan AHY.
Diumumkannya, AHY kemudian memajang foto pertemuan Delisa dengan SBY di akun Twitter miliknya dengan label biru.
AHY menulis pembicaraannya terhadap Delisa ini.
Saya sangat lega datang ke Aceh kali ini, selain menandai 19 tahun pasca-bencana tsunami, saya & Pak @SBYudhoyono secara langsung bertemu dengan salah satu korban tsunami Aceh yang selamat, yaitu mba Delisa.
Ikatan yang khas sempat dijadikan inspirasi cerita novel dan film berjudul “Hafalan Shalat Delisa”.
Saiket ngobrol, saya merasakan eksitasi dan energi positif berkembang untuk meneruskan kemajuannnya dan mengwujudkan impian-impiany.
"Saya percaya semangat Ibu Delisa juga dimiliki oleh anak-anak muda Aceh yang terus melawan dan bangkit, menjaga kerukunan serta terus membangun kejayaan Aceh di masa depan,” tulis GH.
Untuk Delisa, momen pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini merupakan sebuah kehormatan.
Selama begitu lama, Delisa telah mengharapkan rencana untuk bertemu dengan tokoh yang dinilai sangat demokratis itu.
Sangatlah kehormatan saya untuk bertemu Bapak SBY, tepatnya 18 tahun yang lalu, saya pernah melihat Bapak berpidato di televisi dan pada saat itu, impian saya adalah bertemu dengan Bapak suatu hari nanti.
Delisa mengucapkan rasa syukur atas kebaikan Allah, kelmarin malam saat cuaca di Aceh sedang buruk, dia diundang bertemu dengan Bapak SBY, ungkap Delisa ketika ditemui Serambinews.com, Selasa (26/12/2023).
Dalam pandangan Delisa, SBY adalah tokoh inspiratif yang seharusnya menjadi contoh dan sosok pemimpin yang demokratis dalam menentukan keputusan.
Selain itu, selama masa jabatannya, SBY banyak berperan dalam membantu Aceh dalam menghadapi bencana.
Saat bertemu itu berlangsung, Delisa mengaku tak bisa menghentikan air matanya.
Hari sebelumnya aku sedang bertemu dengan Bapak (SBY), aku terharu, tidak bisa berkata-kata.
"Saya juga pernah menangis di hadapannya, bahwa sosok pemimpin yang selama ini diidamkan dan diharapkan menjadi panutan justru berdiri di dihadapan saya, itu adalah kehormatan tersendiri dan harapan yang menjadi kenyataan pada tahun ini," ia tambah.
Delisa juga mengingatkan para generasi milenial untuk selalu berhati-hati dan siap menghadapi potensi bencana.
Mulai pelajari hal-hal tentang mitigasi bencana, sebab menurutnya kemungkinan besar kejadian bencana lagi akan dialami.
Pesan Delisa kepada milenial bahwa 19 tahun berlalu sejak tsunami Aceh terjadi, namun kenangan itu masih terasa sangat baru-baru saja seperti kemarin.
Bahwa harapan Delisha memperingati tsunami ini setiap tahunnya bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga harus dipahaminya, yaitu mendapatkan pengajaran terkait penanganan bencana, khususnya di Aceh, mempersiapkan diri pada keadaan darurat, seperti tsunami, gempa, dll.
“Kita tidak pernah tahu Hanya 50 tahun atau berapa pun lama namun, setidaknya kita mengurangi risiko bencana, mengurangi korban jiwa dan kehilangan lagi, maka itu harapan, semoga tahun demi tahun kita menemukan pemecahan lain untuk edukasi seluruh lapisan masyarakat terkait bencana tsunami ini,” terang dia.
Terahir, Delisa juga mendoakan para korban yang telah meninggal akibat tsunami di Aceh pada tahun 2004 itu.
Saya ingin mengingatkan kembali untuk selalu berdoa bagi semua korban banjir tsunami di Aceh, khususnya bagi yang berhenti dan yang masih bertahan.
Semoga kita mendapatkan perlindungan Allah SWT dan tempat terbaik di sisi-Nya, seperti yang dirindukan kita sebelumnya.
Artikel ini telah terbit di Tribun-Medan.com dengan judul Siapa Delisa Korban Bencana Tsunami di Aceh Kisahnya Tercermin dalam Film Berjudul Hafalan Shalat Delisa
.
, dan
No comments:
Post a Comment