Ada sebuah lagu dengan lirik yang mirip seperti ini: Saya tidak suka, kalau kamu tidak ada di seberangku. Saya tidak suka, kalau saya tidak mendengar suaramu. Memang benar-benar demikian, dan saya mengalaminya sendiri juga.
Berikut adalah konsep cinta versiku yang sederhana dan tidak terlalu mendalam. Cinta adalah suatu situasi yang dapat sangat menyusahkan kita, tetapi juga dapat membuat kita bahagia. Beberapa hubungan bermuncul yang geram akibat tawa dan perdebatan bersama. Sedangkan yang sudah lebih lama kadang-kadang lengkap apa adanya tanpa banyak emosi. Jadi, apakah itu yang disebut cinta? Mari kita bahaslah dengan perspektif saya.
Dalam sebuah pernikahan, kemudian berkembang menjadi sebuah keluarga, memerlukan komitmen yang tinggi. Ketika menyebutnya serius, ya pastikan serius. Akan tetapi ketika mengimplementasikannya, tidak harus serius hingga benar-benar serius dan menyulitkan diri sendiri. Mendapatkan pengalaman dalam kehidupan merupakan cara belajar, mengikuti arus dan dinamika dari situasi.
Aliran itu kadang melalui saluran yang banyak jeratan, tapi kadang juga melalui saluran yang tenang, nyaman, teratur, indah. Fluktuasinya tidak pasti. Seperti keadaan hati kita, ketika mulai melakukan sesuatu yang penting dalam kehidupan, perasaannya tidak pasti. Kadang menggugurkan kegembiraan, kadang mengiringi nada yang indah. Macam-macam dan menyenangkan. Itu adalah nasib orang-orang biasa!
Ada kebutuhan waktu yang lama untuk menemukan jalan hidup yang benar-benar damai, nyaman, teratur, dan indah. Tanpa perselisihan dan saling belajar untuk memercayai. "Selamat pagi, aku ingin sesuatu seperti itu. Tolong, ya?" Jawabnya: "Tentu saja, sayang. Tapi tunggu dulu sampai kamu memiliki dana yang cukup, ya. Berdoalah agar keinginan kamu cepat terlaksana. Aamiin..." Lalu, jawaban amin pun muncul dari mulut pasangan. Nah, tidak salah, kan? Saling memercayai.
"Mereka melihat kita sebagai pasangan romantis, padahal..." Tawa saling memuncul di antara kami berdua. Bagaimana bisa romantis, jika kami kadang marah-marah dan berbeda pendapat? Cobaan besar. Tapi tidak lama, karena kami saling mengakui kelemahan membuat hati lemah. Contohnya, rayuan gombal dengan mengajak makan bakso bareng. Yang tadinya marah, menjadi senyum karena semangkuk bakso yang lezat.
Berpacu bersama, setiap hari, terus terlihat, entah berapa kali, sudah biasa terasa. "Kalau tidak ada bukti cinta, kemungkinan akan berbeda dari hari ke hari. Mungkin bosan, apabila delapan pasangan bukan jodoh. "Apa kamu bosan dengan saya?" dia bertanya. "Saya tidak, memang, malah makin sayang," balas seseorang. Dan seterusnya.
Maaf, tolong ambil ini, ya.
"Baik, Darling,"
Menginginkan bantuan dari pasangan. Terkadang, dua kali, itu sudah cukup. Berapa kali pun, apa salahnya? Hanya pembantu saja. Tapi ketika bersentuhan dengan pasangan yang dicintai, kita tidak akan segan-bisikutan jika meminta bantuan. Tanpa mengkhawatirkan apa-apa, saling membantu sesuai kemampuan dan kematangan. Ingin tidak ingin? Benar atau tidak? Itulah cerita tentang cinta kita.
Cinta adalah anugerah dari Pencipta Yang Maha Menyayang. Pembiasaan berkasih kepada pasangan adalah salah satu hal yang menjaga kekuatan dalam sebuah pernikahan. Cinta harus terus diperhatikan dan dijaga, agar selalu hadir di setiap hari.
Mereka selalu ingin berada di sekitar, terutama ketika mereka membutuhkan perhatian, atau ketika hati mereka dalam mood yang miring. Maka tidak mengherankan jika mereka selalu menginginkan untuk berbaring di bahu pasangan mereka.
Aku membutuhkan bantuanmu, terima kasih. Aku ingin kamu menyertainya.
Apa yang tidak beres denganmu? Kamu sakit, sayang?
Tidak, aku hanya ingin dipeluk saja.
"Oh, kirain."
Maksudnya dia begini. Selama berkecil hati karena masalah tertentu, ia mendambakan pasangannya bisa menjadi seseorang yang bisa didengar ceritanya. Menjadi teman baik yang bisa menawarkan cara untuk mengatasi permasalahannya.
Sebaliknya, dia justru jadi lebih ketakutan untuk kehilangan pasangannya, karena dia khawatir tidak akan bisa kembali ke masa lalu itu kembali. "Kekasih saya menjadi penghambat istiridanya, bukannya penghangat."
Selama pernikahan saya dan pasangan, ada banyak pelajaran hidup yang kami alami bersama. Kami belajar menghargai, mencintai, dan memahami satu sama lain. Ya, secara teori ini mudah untuk dikatakan, namun pada kenyataannya, membutuhkan perjuangan yang lama dan sulit seperti arus sungai yang mengalir.
Menggabungkan dua hati dalam hubungan pernikahan, tidaklah secepat menulis sebuah novel. Perlu adanya pengalaman bersama, perilaku menghargai satu sama lain, serta perasaan cinta yang timbal balik.
Cinta yang kita miliki dapat tetap ada karena kita terbiasa dengan satu sama lain dan selalu ada di sisinya. Tidak berarti kita harus bertemu setiap jam berjam bersama, ya. Yang penting ada komunikasi yang terjalin dan tidak boleh putus. Saling menghargai dan menghormati. Tentu saja hal ini tidak mudah, tapi bisa dicapai.
Jika pernikahan saya dan pasangan sudah menginjak 27 tahun, dengan pengalaman luas dari fluktuasi yang tidak stabil sama sekali, bagaimana jika Ayah Tjipta dan Bunda Rose berhasil menjalani hidup pasangan seumur 60 tahun? Sangat mustahil untuk terbayang. Wah, sangat luar biasa.
Ayah Tjipta dan Bunda Rose bisa jadi contoh yang inspiratif bagi pasangan muda dalam menjalani pernikahan. Ada interaksi saling melengkapi antara keduanya. Kebersamaan mereka bisa diteladani dan dijadikan referensi dalam menjalani kehidupan suami istri bagi saya dan teman-teman saya.
Saya mengucapkan: "Selamat Happy Diamond Anniversary untuk Ayah Tjipta dan Ibu Rose. Semoga kebahagiaan dan cinta Anda berlangsung selamanya. Semoga Anda selalu mempertahankan semangat dan kegembiraan dalam menjalani hidup. Semoga sehat selalu dan bahagia, dan terus menjadi inspirasi dan contoh bagi suami istri muda di komunitas Blog Media."
Selamat dan salam sayang kami bagi Ayah Tjipta dan Bunda Rose dari kami keluarga di Semarang. Kami sangat mencintai Anda berdua.
Wahyu Sapta.
Semarang, 28 Oktober 2024.
No comments:
Post a Comment