Dalam dunia kerja yang semakin kompetitif, muncul istilah "quiet quitting". Istilah ini mengacu pada karyawan yang hanya melakukan pekerjaannya sesuai dengan deskripsi kerja tanpa memberikan lebih daripada yang seharusnya atau mengalahkan ekspektasi minimum. Secara sederhana, mereka hanya menjalankan tugas "sebatas yang diminta saja".
Mengapa Quiet Quitting Terjadi?Pengundur diri diam-diam, atau yang biasa disebut "quiet quitting", sering kali timbul sebagai respons terhadap tekanan pekerjaan, ketidakseimbangan dalam kehidupan kerja, atau kurangnya penghargaan dari perusahaan.
Souvenir Orang yang merasa usaha mereka tidak dihargai, mungkin akan lebih cenderung "bertahan" dengan energi minimal. Alasan lain termasuk:
1. Kelelahan Kerja: Beratnya kerja tanpa adanya istirahat yang cukup dan cita-cita serta harapan yang tidak tercapai.
2. Kurangnya insentif yang memadai: Kekurangan penghargaan, baik berupa dana hibah maupun pengakuan atas usaha yang sudah dihimpun.
3. Kehilangan motivasi: Lingkungan kerja sulit atau membosankan yang bekerja.
Mengundurkan Diri Nyaman: Apakah Selalu Buruk?Sebelum menyimpulkan bahwa quiet quitting itu buruk, penting untuk memahami bahwa menetapkan batasan diri sebenarnya bukanlah hal yang negatif. Beberapa orang melakukannya untuk menghindari stres atau menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Namun, terdapat juga pihak lain yang harus dipertimbangkan, terutama jika terkait perkembangan karir.
Dampak Dagu Tidur untuk Karir
Apakah Anda sedang mempertimbangkan untuk kembali bekerja dengan lebih santai, atau "quiet quitting" dari karier Anda? Apa saja yang ada dalam pikiran Anda?
"Istilah 'quiet quitting' mulai marak beberapa waktu lalu sebagai istilah yang akrab digunakan untuk menyatakan keputusan orang untuk meninggalkan pekerjaan mereka tanpa mengumumkan secara resmi dan tanpa membuat dunia tahu.
Banyak orang berpikir bahwa 'quiet quitting' adalah cara untuk menghilangkan tekanan, stres, dan jalur karier yang terasa tidak sesuai. Mereka merasa harus meninggalkan pekerjaan karena tidak lagi menikmati pekerjaan mereka, tidak memiliki tujuan karir, atau tidak lagi mendapatkan imbalan yang adil.
Namun, banyak yang begini pula:
* Kamu lagi-lagi maen jalur buram melawan aura ayah supir tumpang dan ibu bahagia tambah suam
* Pa dan mbak juga dari jalur buram, takut sekitar met häad lurking ti
* Sa sungging minta Paenarioeeee ding
* Pill in tok untuk bisa deihsi viral
* Polygame gaa17
* Apa pun servis co Boys."
Dalam beberapa tahun terakhir, "quiet quitting" telah menjadi hal yang luas diperdebatkan di masyarakat.
Rentetan ketergantungan pada pekerjaan sudah terasa terlampau berat dan membuat mereka merasa tidak masih memiliki kebebasan untuk menikmati kebutuhan primitif lainnya. UNla seperti apa yang Anda pikirkan?
Meskipun "quiet quitting" memberikan kesempatan untuk meningkatkan kesehatan mental, terdapat konsekuensi yang tidak bisa diabaikan, yaitu:
1. Sulit BerkembangMengambil pekerjaan hanya di level minimum dapat terbatas dalam peluang untuk menguasai kemampuan baru. Hasilnya, karyawan mungkin dianggap tidak aktif atau tidak kreatif.
2. Citra Profesion yang CecokManageer atau kelompok tim bisa melihat itu sebagai kurangnya komitmen. Ini bisa memengaruhi rekomendasi atau peluang untuk promosi.
3. Kurang Berkontribusi pada TimBekerja pada tingkat minimal mungkin dapat membuat rekan kerja merasa harus menanggung beban yang lebih berat, sehingga dapat menciptakan ketegangan di dalam tim.
Apakah Pekerjaan dengan "Extra Miles" Adalah Pilihan yang Tepat untuk Kita?Namun, berusaha lebih dari biasa bisa menjadi dua leher bermata dua. Pada satu sisi, menunjukkan inisiatif tambahan dapat meningkatkan reputasi profesional dan memberikan peluang karir yang lebih baik.
Pertimbangkanlah agar tidak melupakan pentingnya kesehatan fisik dan mental.
Menemukan KeseimbanganBerikut beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan selain quiet quitting atau melakukan extra miles:
-Prioritaskan: Pahami kapan harus memberikan dukungan tambahan dan kapan cukup menyelesaikan pekerjaan utama.
-Diskusikan Harapan Dengan Atasan: Pastikan deskripsi kerja dan ekspektasi yang jelas sejak awal.
-Pastikan Keseimbangan: Jangan biarkan ambisi karir mengalahkan kesejahteraan mental dan fisik Anda.
-Perluas Kemampuan Secara Berangsur: Ambil inisiatif untuk belajar di luar bidang pekerjaan, tidak perlu terlalu berlebihan.
"Quit work dengan diam" bisa menjadi tanda yang tepat bahwa saatnya perubahan baik dari segi karyawan maupun perusahaan. Karyawan perlu menjaga keseimbangan kerja danτέkerjaan yang rasio dengan menjaga kesehatan mental mereka.
Sementara itu, perusahaan juga harus menciptakan lingkungan yang mendukung dan menghargai setiap kontribusi yang diberikan oleh individu.
Jadi, menurutmu, apakah membisu dari kerja besar adalah cara terbaik untuk menjaga diri sendiri, atau langkah yang sebenarnya membatasi potensi karirmu?
No comments:
Post a Comment