Perasaan bahwa pernikahan itu bagai melangkah ke era baru di hidup ini umumnya disepakati. Meski sedang berbahagia, akhirnya kita menyadari bahwa tahap-tahap baru ini sering memasuki titik dimana kita dirundung oleh pengharapan bahwa pernikahan mah potensi "tindak lanjut" kehidupan bahagia. Padahal, sebagai melihat lampu yang keok, segerombolan bunga yang layu, dan tamu yang tiado di rumah, kita membuktikan bagaimana segalanya ini memungkinkan menghadapi kenyataian bahwa kehidupan rumah tangga tidaklah sesederhana senyum-senyum saat momen foto pernikahan.
Pertimbangkanlah, Anda telah mengadakan pesta mewah bersama pasangan. Dekorasinya tampak seperti bonanza dongeng, makanan yang disajikan bagaikan jamuan kerajaan, dan persembahan musik oleh artis idola tetangga. Tamu-tamu undangan tersebar, "Wow, sangat menakjubkan! Pernikahan ini tahun ini benar-benar istimewa!" Namun, ketika tengah malam tiba, Anda dan pasangan duduk di kasur yang masih tergelomeng peminjaman, menatap rekening bank yang tiba-tiba kosong, bising, "Bagaimana kita akan membayar utang timbul bulan depan?"
Tidak hanya tentang pernikahan sendiri, loh. Di era modern ini, berbagai tantangan menikah muncul berdasarkan teknologi. Membuat orang tua kita pada masa lalu tidak perlu menghadapinya kecuali. Dunia maya maupun media sosial adalah kelompok pertama. Mempesona turut mempesona yang mendapatkan perhatian publik yang pasti akan membuat semuanya itu terbayangkan. Kamu menggunakan berita media sosial melalui akun Instagram, dan kejadian kejadian pun yang ditampilkan seperti mereka merasakan pesta ahad, menikmatli membaur undakh Gat segar dan saat suruh pertandingan suporter pun ngan Produk lengkap.
Waspadalah, karena kita perlu berbicara dengan jujur kepada diri sendiri. Apa yang kami lihat di media sosial hanya bagian yang sudah dipilih, difilter, dan dipoles terbaik. Sepertinya itu bukanlah kenyataan yang sungguh-sungguh. Mereka tidak akan mengunggah foto jika mereka tengah berselisih paham atau jika mereka melupakannya membayar tagihan listrik. Dunia online memang penuh dengan ilusi, dan jika kamu tidak berhati-hati, kamu bisa tertembus dalam membandingkan hidupmu dengan versi palsu hidup orang lain.
Banyak yang tahu, bukan hanya Anda yang tersesat. Banyak konflik dalam rumah tangga tidak diselesaikan dengan solusi yang tepat. Mereka secara terbuka memperburuk situasi dengan mencari pelecehan di media sosial. Awalnya mereka hanya mengeklik foto foto lama teman lama, lalu mencoba mengobrol intens dengan DM. Salah satu di antaranya mengatakan, "Hanya untuk teman." Padahal, dunia maya yang terlihat indah mencapai titik di mana lebih menarik dari yang dialami secara langsung. Jika hal-hal seperti ini terjadi, suatu pernikahan yang telah dimulai dengan cinta justru berujung pada pemborosan perasaan dan melepaskan energi yang sebenarnya tidak perlu.
Waktu dahulu, orang tua kita hidup lebih sederhana. Mereka tahu bahwa menikah bukan tentang mencari keadaan sempurna, melainkan menerima kekurangan pasangan mereka. Mereka tidak memiliki media sosial untuk membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain. Ketika kesulitan timbul, mereka mengobrol, memecahkan, dan meneruskan kehidupan. Tapi sekarang? Masalah kecil saja bisa menjadi besar karena ada media sosial yang menunggu perubahan emosi tanpa batas.Hal ini kadang membuat masalah tambah bermasalah.
Pergi ke hanti-hunti ulang tahun lagi. Ada yang bilang, "Sekali seumur hidup, ulang tahunnya harus tiada duanya!" Tapi coba kita pikir baik-baik. Apa yang sebenarnya lebih penting? Menghabiskan 2 miliar rupiah untuk hajatan satu malam atau menggunakan uang itu untuk sesuatu yang begitu berarti, seperti membayar DP rumah, memulai usaha, atau menabung untuk masa depan?
Kebahagiaan dalam pernikahan itu bukan soal bagaimana besar kecilnya pesta pernikahanrendingan, melainkan bagaimana kalian menghadapi kehidupan setelah pesta pernikahan selesai. Pernikahan adalah tentang cinta yang sederhana dan kuat, tentang dua orang yang saling menerima dan belajar dari satu sama lain.GetKeyDownpernikahan tidak perlu seperti drama Korea yangselalu melibatkan adegan romantis dalam kehidupan nyata. Realitasnya lebih tentang siapa yang mengingatkan bahwa perlu membayar tagihan listrik sebelum kehabisan.
Jika ingin menikmati pilihan hidup yang bahagia, percayalah bahwa pernikahannya tidaklah tentang siapa yang hadir di acaramu pesta pernikahan. Pernikahan yang bahagia lebih ada pada siapa yang dengan senang hati ingin membagikan makanan bersama memasukkan menu makanan cepat saat akhir bulan, siapa yang memilih untuk menonton film bersama-sama meski film itu tidak sesuai dengan selera, dan siapa yang akan tetap memilih dan memilih kamu di setiap hari bahkan dihadapkan dengan banyak pilihan yang terlihat indah pada dunia maya.
Bagi kamu yang sedang merencanakan pernikahan atau baru saja menikah, jangan terlalu terobsesi dengan pesta atau illusi di dunia maya. Pesta memang penting, tapi bukanlah hal yang paling penting. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kamu dan pasangan menghabiskan hari-hari setelah itu. Apa yang lebih penting adalah bagaimana kamu berdua memahami satu sama lain, memaafkan satu sama lain, dan tetap saling mencintai meski ada ribuan alasan untuk menyerah.
Hal ini memotivasi kita untuk tertawa, tapi jangan lupa bahwa apa yang akan kita lakukan nanti bukan hanya tentang popularitas di media sosial. Ingatlah apa yang kamu lihat di layar bukanlah kebenaran. Jadi, berhentilah membandingkan. Fokus pada kehidupan nyata, cinta yang kamu punya, dan pasanganmu yang mungkin tidak sempurna tapi nyata.
Karena akhirnya, kebahagiaan yang sebenarnya tidak ada di dunia maya. Kebahagiaan itu ada di dunia nyata, bersama pasangan yang rela berbagi makanan terakhir denganmu, meski dia lapar. Karena di sana, cinta yang sungguh-sungguh hidup di tengah-tengah suka, duka, dan kompromi kecil yang kalian jalani bersama.
No comments:
Post a Comment