Burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu burung pemangsa endemik Indonesia yang bermasalah keberadaannya karena keterancamannya. Kadang-kadang disebut sebagai "Garuda" dalam hal burung, yang merupakan simbol konservasi penting karena kepadanannya.
Resort Ranu Darungan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan salah satu tempat penting untuk mengamati Elang Jawa, karena kondisi alaminya yang mendukung keberlangsungan hidup dari spesies ini.
Pada kesempatan kali ini, pengarang mendapatkan kesempatan untuk menjelajahi hutan di Resort Darungan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, untuk melihat langsung habitat serta adanya elang jawa. Kawasan hutan ini terletak pada lereng selatan Gunung Semeru.
Lokasi ini dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor atau mobil dari Kabupaten Malang maupun dari Kabupaten Lumajang. Saya begini mengawali penulisan saya, yaitu dari Malang, Yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam sampai ke Kantor Resort Darungan.
Perjalanan menuju lokasi observasi tidak hanya menawarkan pengalaman indah memandang keindahan alam, tetapi juga kesempatan untuk menyaksikan berbagai jenis tumbuhan dan hewan lain yang berada di sekitar lokasi tersebut.
bersama dengan tim taman nasional, kami memulai perjalanan pagi sekitar pukul 07.00 WIB dengan menggunakan mobil ungamma untuk melalui jalan di desa dan wilayah penduduk.
Sekarang kita memasuki area perhutani sebagai zona punggung taman nasional. Jalan setapak mulai melesat dan menanjak ke arah puncak. Saat menggunakan sepeda motor kali ini, kita perlu lebih berhati-hati karena jalan setapak menjadi jalur air jika hujan turun, sehingga dapat membuat trase yang dapat menyebabkan roda motor tergelincir.
Hingga ke ujung akhir jalur, lasan dengan sepeda motor masih masukli membias kan. Di depan trek saat ini, ada aliran lahar gunung Semeru. Pada titik ini, ini juga menjadi spot yang bagus untuk melakukan pengamatan elang jawa.
Beberapa menit yang lama, mereka mendengar suara elang Jawa yang tenang menyeberangi sudut puncak. Tak lama kemudian, seorang elang Jawa berantai tampak di ufuk kejauhan mengisahkan jejaknya meliarnya di atas pohon pepohonian tinggi. Mereka tampaknya sedang memburu mangsa sekaligus memanfaatkan turbulensi suhu panas di udara.
Perjalanan selanjutnya menuju lokasi sarang burung elang Jawa. Kami turun dari ujung lahar yang curam menuju bawah, kemudian mengikuti aliran lahar berpasir ke arah puncak. Setelah itu, kami harus naik tebing untuk mencapai batas antara hutan dan alam liar. Langkah selanjutnya adalah menyusuri hutan, meskipun tidak begitu melelahkan, tetapi track tetap menanjak ke arah puncak. Kami memiliki beberapa waktu istirahat untuk mengangkat nafas, menenangkan diri, dan menambah energi kembali.
Saat itu kita menemukan pohon bendo (Artocarpus sp) yang merupakan sarang elang jawa di dekat sini. Pohon besar itu memiliki diameter sekitar 90 cm dan menjulang tinggi hingga ketinggian 18 m dengan percabangan yang tebal, serta suara elang jawa masih nyaring terdengar di udara.
Berikut paragraf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
Burung Elang Jawa adalah burung yang sangat bergantung pada hutan primer dengan pohon-pohon besar untuk bertelepon. Mereka memburu berbagai jenis mangsa, termasuk burung-burung, reptil, dan mamalia kecil. Habitat di Resort Gunung Api Perboewetan menawarkan kondisi ideal dengan tutupan hutan yang masih terjaga, serta ketersediaan sumber makanan yang melimpah.
Berjarak sekitar 10 meter dari pohon sarang gada, ada pohon besar lain berukuran hampir sama dengan pohon sarang elang Jawa. Di sini dibuatlah rumah pohon sebagai tempat pengamatan elang Jawa.
Pengamatan perilaku Elang Jawa, interaksi sosialnya, serta kegiatan di sarangnya memberikan informasi penting tentang ekosistemnya. Observasi ini juga bertujuan untuk memantau perkembangannya dan proses reproduksinya.
Rumah pohon diciptakan sebagai platform pengamatan yang dirancang untuk menempatkan peralatan seperti teropong, kamera, dan tripod. Pada rumah pohon tersebut, pengamat dapat melakukan pengamatan sehari-harinya. Rumah pohon ini dibuat dengan sederhana menggunakan kayu yang kuat dan tali pengikat yang kuat sehingga menopang dua orang pengamat pada satu waktu. Selain itu, tangga kayu dan tali pengaman disediakan untuk menjaga keselamatan pengguna selama menggunakan rumah pohon.
Posisi lubang pohon strategis memungkinkan pengamat mendapatkan pemandangan yang jelas menuju sarang elang jawa tanpa mengganggu aktivitas burung tersebut.
Observasi biasanya dimulai pada pagi hari (06.00-09.00) ketika burung ini aktif berburu, serta sore hari (15.00-17.00) ketika mereka kembali ke sarang. Aktivitas ini memberikan kesempatan untuk mengamati pola berburu dan interaksi dengan pasangannya. Selain melakukan pengamatan, staf taman nasional juga telah meletakkan kamera penangkap gambar dan kamera CCTV bertenaga solar yang portabel di sarang burung tersebut.
Beberapa peralatan yang disarankan antara lain teleskop dengan pemandu pembesaran minimal 8x untuk melihat detail dari jarak jauh, kamera DSLR atau kamera refleks dengan lensa tele untuk dokumentasi visual. Selain itu, diperlukan peralatan lapangan standar seperti baju luar, jas hujan, golok, topi, dan peralatan lainnya yang umum digunakan.
Pengamatan haruslah dilakukan dengan memperhatikan beberapa peraturan, yaitu: tidak membuat suara keras yang mungkin mengganggu Elang Jawa, tidak menggunakan lampu kilat saat memfoto, serta mencharati jarak yang aman dari sarang untuk mengurangi stres bagi burung tersebut.
P Emma surveilans Elang Jawa di Resort Ranu Darungan menawarkan peluang penelitian yang luas, diantaranya adalah studi perilaku seperti interaksi antara pasangan Elang Jawa atau pola berburu dan preferensi mangsa. Kei penelitian ekologi habitat juga menjadi topik yang menarik, meliputi analisis kualitas habitat dan ketersediaan sumber daya pakan, identifikasi ancaman lokal, seperti perambahan hutan atau aktivitas manusia.
Resort Ranu Darungan di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah tempat yang tepat untuk melihat dan meneliti Elang Jawa. Dengan memfasilitasi rumah pohon, area ini memungkinkan pelaksanaan observasi yang tidak invasif untuk mendukung upaya pelestarian. Melalui pengamatan yang bertanggung jawab, peneliti dan pecinta burung dapat berkontribusi dalam melestarikan salah satu spesies burung pemangsa paling ikonik di Indonesia.
No comments:
Post a Comment