Thursday, 26 December 2024

Ada Dentuman Keras dari Laut Sebelum Gelombang Air Datang di Tsunami Aceh 2004

- Pada 26 Desember 2004, gelombang tsunami besar melanda dan menimpa wilayah Aceh.

Tsunami yang mencapai ketinggian 30 meter membawa hancuran ke bagian pesisir pantai setelah gempa bumi yang mengguncang Samudra Hindia dengan kekuatan di atas M 9,0.

Akibat bencana tersebut, 500.000 orang kehilangan rumah dan lebih dari 230.000 nelayan meninggal, seperti dilaporkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 4 Januari 2005.

Ledakan dahsyat tsunami Aceh menyebabkan salah satu bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di permukaan Bumi.

Badai tsunami ini juga menunjukkan kurangnya kesadaran akan bahaya dan upaya antisipasi yang efektif terhadap bencana.

Karena tidak ada yang membayangkan bahwa gempa bumi dahsyat itu akan menghancurkan lapangan Serambi Mekah.

Baca juga:

Suara gemuruh dari laut

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa tsunami di Aceh didahului gelombang gempa yang terjadi pukul 07.58 WIB.

Gempa bumi berpusat di Selat Hindia, terletak 250 kilometer dari pantai barat Aceh dengan kekuatan gempa 9,1-9,3 skala richter, dan berlangsung selama sekitar 10 menit.

Setelah terjadi gempa, penghuni di tepi pantai melihat air laut menurun secara tiba-tiba. Sementara itu, dari arah laut juga terdengan dengar suara ledakan yang sangat keras seperti letupan bom.

(30/5/2015).

Sayangnya, masyarakat tidak dapat mengenali gejala tersebut. Sejurus setelah gempa berlalu, gelombang pasang laut mengalami kenaikan dan melanda sebagian besar kawasan pantai di Aceh, mengikuti serangkaian gelombang longsor yang semakin memburukkan keadaan.

Gempa tektonik seISMik disebabkan oleh pergeseran lempeng tektonik di dasar laut menyebabkan gelombang tsunami yang tingginya 30 meter bergerak ke daratan dengan kecepatan 100 meter per detik atau 360 kilometer per jam yang menghancurkan segala sesuatu di atasnya.

Seluruh penduduk, hewan ternak, rumah-rumah, serta infrastruktur lainnya tercerabut dari dasar. Banjir besar itu mampu menyeret kapal PLTD Apung sejauh 5 kilometer dari perairan ke arah daratan pusat.

Daerah-daerah seperti Kota Banda Aceh dan Meulaboh, serta beberapa daerah lain yang terletak di pesisir wilayah tersebut, jatuh pada bencana gempa berkekuatan megagitur menyusul tsunami yang menghantam dalam hitungan menit.

Baca juga:

Asal suara dentuman

(26/12/2021), setelah tsunami Aceh, muncul sebuah kisah bahwa ledakan tersebut berasal dari bom nuklir.

Namun, hal ini ditolak oleh Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono.

Suara dentuman di daerah ini berasal dari kebocoran suara patahan lempeng tektonik Eurasia dan Indo-Australia.

Daryono menyatakan, aktivitas tektonik dapat dibuktikan melalui data rekaman getaran tanah pada seismogram.

) yang datang berikutnya.

Gambaran S pada data seismograf juga menunjukkan bahwa kejadian yang disebabkan di Dasar laut Hindia adalah proses pergeseran pada lapisan keras luar Bumi.

Pergeseran tersebut terjadi setelah terjadinya tabrakan antara plat tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

Interaksi antara dua lempeng tektonik menyebabkan gempa besar yang diiringi dengan alasannya terjadi di bawah pulau dan laut.

Lautan dalam meminta tekanan semakin banyak, kemudian mengubah dan meninggikan permukaan air laut di atasnya.

Sehingga, permukaan datar air laut ke arah pantai barat Sumatera pun ikut terkena pengaruh berupa penurunan muka air laut.

(26/12/2018).

Baca juga:

Evakuasi dan pemulihan

Bencana tsunami Aceh juga menyapu beberapa negara lain selain Indonesia.

Negara-negara tersebut termasuk Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, Myanmar, Maladewa, Malaysia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, Afrika Selatan, Yaman, Kenya, dan Madagaskar.

Kasus Covid-19 di Indonesia adalah yang terburuk di antara semua negara yang terkena dampak pandemik ini.

Setelah terjadinya keadaan darurat, beberapa negara tersebut menyalurkan bantuan ke Aceh. Amerika Serikat, misalnya, mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln untuk mengangkut korban evakuasi dan mengirimkan bantuan.

Masyarakat internasional juga memberikan kontribusi sebesar 2 miliar dollar AS (31 triliun rupiah)

Wilayah Aceh mulai pulih dari dampak bencana pada tahun 2009.

Pada lima tahun terakhir, pemerintah telah melakukan perbaikan tiga tahap, yang meliputi fase tanggap darurat, pembaharuan, serta perbaikan ulang, dengan menggunakan dana lebih dari Rp 10 triliun.

Pemerintah pada saat itu juga membentuk wadah khusus, yaitu Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) untuk menangani bencana di Aceh.

Tahun 2009, pemerintah juga mendirikan sebuah museum untuk mengenang bencana yang感 bergema pada itu. Museum tersebut adalah Museum Tsunami Aceh, terletak di Kota Banda Aceh.

(Kita Harus Maju Bersama: Tugas Penting Android untuk Mempertahankan Keterampilan Bahasa Sekarang dan Masa Depan)

Baca juga:

No comments:

Post a Comment

8 Tips Percaya Lagi dengan Pasangan yang Pernah Berbohong, Bangun Kembali Hubungan

Tentu tidak mudah bagi ibu untuk membangun kembali kepercayaan. Meskipun begitu, hal itu tidak berarti tidak dapat dilakukan. ? ...