Tuesday, 31 December 2024

Untuk Apa Membaca?

Mungkin sejak lama, masih ada yang berdebat tentang apakah membaca penting atau tidak. Sangatlah naif jika membaca diadakan sebagai bahan perdebatan tanpa mencobanya sendiri. Membaca seharusnya bukanlah topik pembicaraan, melainkan kegiatan, Yang membuat membaca menjadi kebiasaan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, meskipun pesatnya kanal digital dan kehadiran cafe-kafe tempat berkumpul. Membaca pada hari ini tidak hanya membutuhkan keberanian, melainkan juga ketersediaan buku bacaan.


Aktivitas membaca memang tidak mudah, tetapi memang membawa banyak manfaat. Hampir semua orang tahu bahwa membaca dapat meningkatkan pengetahuan dan kematangan wawasan. Ada yang berpendapat juga bahwa membaca dapat memperluas kemampuan berpikir dan meningkatkan kosakata. Secara historis, mengulas informasi melalui membaca akan selalu memberikan dampak positif.
"Belajarlah sederajat dengan sanak kandungmu, bermurah hati terhadap orang-orang miskin, penuhilah rasa rindu hartawan, engkau akan mencapai lamiman berkesangsiahmu."

Penulis Joyce Carol Oates, salah satu penulis Amerika yang sangat produktif, mengatakan membaca memiliki kekuatan unik untuk melampaui batasan diri sendiri. Seseorang tidak hanya mengerti kata-kata bacaan, tetapi juga mengalami pengalaman, emosi, dan perspektif dari penulis dan tokoh-tokoh dalam cerita atau teks yang ditulis. Membaca adalah proses meditasi, yaitu perjalanan batin menuju dalam diri orang lain. Kita seperti tumbuh dalam dunia orang lain, berbicara dengan cara mereka, dan mengerti apa yang mereka rasakan. Karena membaca, seseorang menjadi lebih tenang, khusus, dan konsisten. Mereka tidak berbau dangkal atau berlebihan seperti seringnya terjadi di banyak tempat saat ini.

Saya tidak bisa membantumu dengan kemelayuan.

Bagi Joyce Carol Oates, membaca semakin menarik karena mampu menjadi sebuah jembatan untuk lebih memahami kepekaan orang lain. Dengan menjadi peka, seseorang dapat memahami dan menghargai perasaan serta pengalaman orang lain. Seseorang dapat mencoba melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain, memahami latar belakang, pengalaman, dan nilai-nilai yang dimiliki orang lain. Sikap empati sangat penting karena dapat membantu mengurangi egoisme, arogansi, dan perilaku yang bermotif pribadi yang umumnya terdapat pada orang.

Pernahkah Anda membaca suatu teks, baik sengaja ataupun tidak, dan secara tidak sadar terbawa oleh alur ceritanya atau argumennya? Anda mungkin tidak setuju dengan isi bacaan tersebut, tapi Anda merasa ingin membaca lebih lanjut. Di sini, terjadi dialog mental antara pikiran Anda dengan penulisnya, tentang perbedaan sudut pandang dan pemikiran. Ketika kondisi demikian terjadi, itulah saat Anda menemukan keseimbangan yang sebenarnya, bahwa setiap orang memiliki kisah yang layak dipahami. Selalu ada cerita yang unik dan Anda diminta untuk memahaminya. Ada empati untuk cerita siapa saja.

Kemungkinan hari ini, banyak orang telah kehilangan ketertarikan membaca. Karena membaca dianggap sebagai suatu bahan berat, bahkan membaca dianggap sebagai pemborosan waktu. Selain membosankan, membaca sering kali dikatakan tidak realistis. Banyak jenis teks bacaan yang berbeda jauh dengan kenyataan kehidupan yang sesungguhnya. Malahan, kita seringkali melupakan bahwa hal menyimpang berasal dari di dalamnya yaitu manfaat mengenyam kelaparan membaca. Menyelami bacaan yang terdapat di dalam sebuah buku tapi nyatanya berbeda sisi sama dengan kisah nyata kehidupan sebenarnya. Lagi-lagi, otak kita sebagai pembaca ikut tuntut untuk melakukan dialog dan berpikir meneliti dan menghayati semuanya.

bagi orang-orang yang suka menulis, membaca sering dianggap sebagai praktek lanjutan untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan berpikir, tidak hanya itu, membaca juga dapat memberikan kejernihan dalam proses menulis. sebenarnya tidak ada penulis yang lahir tanpa membaca buku. membaca dan menulis adalah dua bagian yang saling terkait satu sama lain. tidak ada kebijaksanaan yang mungkin diperoleh hanya lewat membaca, tetapi tidak pernah menulis.

Tentu, membaca jelas akan mengajak kita untuk memahami sudut pandang orang lain, terutama si penulis. Lewat bacaan itu, akhirnya kita dapat membentuk gaya asli kita sendiri dalam membaca dan menulis.

Membaca apa pun, termasuk melalui pengalaman hidup tidak akan pernah sia-sia. "Selalu ada pelajaran dan hikmah" dari membaca dan membaca. "Karena membaca bukan hanya aktivitas intelektual semata." Tapi memberikan pengalaman yang dapat menyadari diri sendiri untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemanusiaan. Membentuk sikap empati dan perhatian yang semakin besar. Terlebih lagi, tanpa menyadari bahwa banyak orang yang perubahan setelah membaca. Karena kita kerap merasa menjadi orang yang berbeda setelah membaca sebuah buku yang menyentuh hati dan segera menggerakkan hati nurani.

Sebagai sebuah pelopor di pasar buku, bukannya hanya mengajak anak-anak untuk membaca. Tapi lebih megagumkan dari itu, menumbuhkan kembali empati kemanusiaan kita bagi anak-anak yang selama ini tidak mempunyai akses ke buku-buku. Sebuah sikap empati yang kini meninggalkan banyak orang. Membaca bukan untuk mencapai kecerdasan. Melainkan karena dengan membaca, kita akan memahami kondisi dan keadaan orang lain.

Terlalu sederhana, kita menganggap membaca adalah hanya tentang bertemu pembaca dan teks tersebut di atas kertas. Padahal membaca justru menciptakan ruang untuk merenungi emosi dan bayangan, untuk selalu bertanya. Mengenai lantas siapa kita dan mana arah kita sebenarnya? Karena membaca itu seperti batu loncatan untuk siapapun yang ingin menjadi lebih baik, bukan terutama lebih pintar. Selamat membaca! Selamat membaca literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen

No comments:

Post a Comment

8 Tips Percaya Lagi dengan Pasangan yang Pernah Berbohong, Bangun Kembali Hubungan

Tentu tidak mudah bagi ibu untuk membangun kembali kepercayaan. Meskipun begitu, hal itu tidak berarti tidak dapat dilakukan. ? ...