Thursday, 26 December 2024

Slow Living Ternyata Tidak Selalu Seindah yang Dibayangkan

Gaya hidup perlahan (slow living), yang menitikberatkan ketenangan, kesederhanaan, dan kesadaran pada saat ini, telah menjadi impian bagi banyak orang yang ingin kabur dari kebisingan dan kemacetan kota. Konsep ini seperti menjanjikan kebahagiaan dengan mengalami kehidupan yang lebih tenang dan lebih mendekat dengan alam. Tapi, apakah itu-setiap hal itu kenyataannya selalu mulus?

Saya ingin berbagi pengalaman dan Refleksi pribadi tentang bagaimana melepaskan diri dari hidup di Jakarta untuk mencari gaya hidup santai di daerah yang ternyata bukan seperti yang saya bayangkan.

HarapanBaru: Menemukan Kedamaian di Dataran

ketika saya masih muda saya sering membayangkan masa depan dengan suasana yang lebih tenang di pedalaman. Membayangkan udara bersih yang segar dan suasana yang damai, dan masyarakat yang hangat seperti yang terasa ketika saya kecil tinggal di Pekanbaru atau ketika liburan di kota- kota kecil atau pedalaman.

Pada masanya, hidup diwilayah berlangsung dengan eratnya hubungan, gotong royong, dan kebersamaan, yang sekarang tidak biasa ditemui di kota besar. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mencoba pindah dari Jakarta dan menjalani kehidupan santai di sebuah kota kecil.

Tiga bulan pertama adalah masa di mana saya merasakan kesenangan dan kebebasan, bebas dari tekanan perkotaan, dan menemukan ritme hidup yang lebih santai dan lambat.

Di pagi hari, saat mendengarkan suara burung, mereka menikmati secangkir kopi di teras dengan menyaksikan pemandangan pepohonan yang hijau. Namun, pada malam, suasana tampak sepi, terbebas dari bisingnya kendaraan. Meskipun begitu, kenyataan perlahan menunjukkan sisi lain dari gaya hidup lembut matahari.


Kenyataan yang Tidak Seindah Harapan
"Kita sering berpikir bahwa hidup akan lebih indah dari keadaan sekarang, tapi tidak semua orang yang memiliki harapan yang sama adalah orang-orang yang paling bahagia."
Tanda-tanda dan Gebrakan Berikut ini Buktinya:
1. Semua orang memiliki kebahagiaan mereka sendiri, tidak ada satu kebahagiaan universal.
2. Kebahagiaan juga dapat ditemukan dalam kegembiraan sederhana, seperti senyum yang tulus, aroma bunga, atau senyum bayi.
3. Hidup mungkin tidak pernah sesempurna bayangan kita, tapi kita dapat menemukan kebahagiaan di mana pun kita berada.
4. Kebahagiaan bukanlah usaha total, tapi bisa ditemukan di keadaan duniawi.
5. Kita memiliki kebebasan untuk mencipta sendiri kebahagiaan kita.

Setelah tiga bulan, rasa lelah berulang pada diri lewat begitu saja malah menggantikan warna bahagia dengan perasaan bosan. Adanya pola hidup yang lurus ke konkretnya saja dan hampir tiada yang bisa menyenangkan membuat saya merasa semakin ragu arah yang tepat.

Saya terbiasa menyesuaikan diri dengan suasana dinamis kota besar, tapi ternyata itu tidak seperti yang saya bayangkan. Saya merasa tidak terlepas dari rasa cemas dan perasaan tidak nyaman bagaimana saya menyesuaikan diri.

Selain itu, saya temukan tidak lagi kehangatan masyarakat di daerah yang saya bayangkan sebelumnya, seperti ketika saya masih kecil. Era digital tampaknya telah mengubah cara orang berinteraksi. Kehangatan yang dulu terasa kini tersilakan oleh kesibukan individu dengan perangkat mereka sendiri. Saya mulai merindukan kehidupan kota dengan segala kompleksitas dan dinamikanya.

Kembali ke Bintaro: Mencari Ketertiban

Saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Bintaro, karena saya berpikir tempat itu menawarkan seimbang antara gaya hidup lambat dan gaya hidup cepat. Di sini, saya merasa bisa mengatur kehidupan saya sendiri menurut kebutuhan saya sendiri.

Saya bisa menikmati ketenangan dengan mudah di tempat ini. Saya juga bisa mengembalikan diri ke ritme yang lebih cepat dan produktif dengan bantuan fasilitas yang tersedia di sini, jika saya perlu. Saya juga bisa bepergian ke tempat lain dengan mudah karena akses dan transportasi yang memadai tersedia.

di Bintaro, saya dapat menciptakan gaya hidup yang sempurna. Di satu sisi, saya dapat menikmati ketenangan di lingkungan yang nyaman. Di sisi lain, saya tetap terhubung dengan berbagai aktivitas modern yang membuat saya merasa relevan dan berkembang.

Warga modern di era digital sering dihadapkan pada jet susu konsumsi di tengah kehidupan sehari-hari.

Pengalaman ini menambah pengetahuan saya bahwa gaya hidup perlahan bukanlah tentang sepenuhnya meninggalkan kehidupan yang sibuk atau modern. Sebaliknya, ini adalah tentang mencari keseimbangan antara ketenangan dan aktivitas yang dinamis.

Hidup lembut atau "slow living" tidak selalu berarti pindah ke daerah terpencil atau menjalani hidup yang sepenuhnya lambat. Ini lebih tentang memilih untuk memperlambat ritme sehari-hari, menjaga kesadaran diri, dan menikmati kehadaan kecil dalam hidup.

Fakta menunjukkan bahwa hidup terasa lambat juga memiliki tantangan seperti merasa bosan, keterbatasan akses, atau perasaan ditinggalkan. Namun, dengan pendekatan yang tepat, hidup terasa lambat bisa diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus mengorbankan kemampuan produktif atau terhubung dengan orang lain.

Penutup

Hidup lambat mungkin sesuai dengan sebagian orang, tapi tidak selalu relevan untuk semua situasi atau fase kehidupan. Seperti yang saya alami, prinsip ini hanya memberikan kebahagiaan sementara jika diterapkan tanpa memahami kebutuhan dan prioritas kita lebih dalam.

Padahal, yang penting adalah menemukan ritme hidup yang sesuai dengan siapa kita, baik itu hidup perlahan-lahan, hidup cepat, atau campuran keduanya.

Apakah Anda pernah mencoba lifestyle slow? Bagaimana pengalaman Anda? Silakan berbagi kisah dan penilaian tentang gaya hidup ini.

Penulis: Merza Gamal (Pensiunan Blogger yang Aktif Banyak Ngeblog)

No comments:

Post a Comment

8 Tips Percaya Lagi dengan Pasangan yang Pernah Berbohong, Bangun Kembali Hubungan

Tentu tidak mudah bagi ibu untuk membangun kembali kepercayaan. Meskipun begitu, hal itu tidak berarti tidak dapat dilakukan. ? ...