Sunday, 29 December 2024

Representasi Standar Kecantikan Perempuan Dalam Iklan Nivea

Saat ini, kita hidup di era di mana kecantikan perempuan sering kali dinilai dari penampilan fisiknya. Banyak orang berpandangan bahwa kecantikan perempuan ditentukan oleh kulit cerah, badan yang bagiannya sreg, wajah yang cantik dan halus. Citra kecantikan ini telah menyebar, sehingga banyak perempuan kehilangan keyakinan diri mereka sendiri. Jika kecantikan ini tidak dapat dipenuhi oleh mereka, mereka merasa malu dengan tubuh mereka sendiri, biasa disebut dengan kurang yakin tentang diri sendiri.

Kevin Gallagher mengatakan, "Kita semua tahu bahwa perasaan tidak aman dalam diri seseorang dapat meningkatkan risiko gangguan kejiwaan."

Bahwa sebenarnya ada banyak ilusi mengenai kecantikan dan standar keputri yang sering dipopulerkan oleh media yang tidak nyata menurut banyak orang. Setiap negara memiliki ide tentang kecantikan yang berbeda, begitu juga Indonesia. Hal ini terjadi karena wacana kecantikan di media dijalankan oleh perempuan kulit putih, tambut cantik, dan untuk menambah itu, industri kecantikan mendorongkan pemikiran yang sama.


Media merupakan salah satu penyumbang yang berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan standar kecantikan dan objektivitas perempuan yang relatif. Ketentuan standar kecantikan tersebut tidak hanya memiliki dampak pada dunia nyata, tetapi juga memicu dampak pada dunia maya, terutama pada media sosial.
Media memiliki peran penting dalam mengembangkan dan mempertahankan aturan kecantikan yang berlaku di masyarakat. Radio Republik Indonesia mengutip masih ada tekanan untuk mengikuti standar kecantikan yang populer di media mainstream. Melalui media, banyak iklan yang memperlihatkan model dengan kulit yang indah yang menciptakan citra kecantikan perempuan yang terbatas.
Iklan dapat dilihat sebagai representasi dinamis dan sensual dari nilai-nilai budaya ("Hal. 2014"), 2022). *NB: saya mencoba merujuk sumber*

Iklan produk Nivea termasuk salah satu iklan yang membentuk persepsi tentang kecantikan. Iklan ini hanya mempromosikan produk, tetapi pesan yang diketengahkan dapat memengaruhi persepsi masyarakat tentang kecantikan. Mereka yang menampilkan model-model kecantikan memberikan kesan bahwa hanya orang dengan kulit cerah-lah yang bisa mendapatkan kecantikan. Iklan ini menyampaikan pesan tentang kecantikan kulit. Narasi yang disampaikan dalam iklan ini sering kali berhubungan antara kecantikan dengan kepercayaan diri, sehingga menimbulkan asumsi masyarakat bahwa kecantikan wanita dihitung dari kulitnya. Karena itu, akan adanya tekanan sosial pada perempuan untuk menyesuaikan dirinya dengan standar kecantikan.

Putri Miranti (2005:164), (Winarni,2010), menyebutkan veregenau ide tentang sumber kecantikan. Beberapa kritikus feminis secara kritis menyatakan bahwa pria mendominasi konsep kecantikan dan menetapkan standar kecantikan. Mengutip Aquarini Priyatna Prabasmoro menurut Winarni (2010:54), bahwa diskusi tentang femininitas perempuan dan kecantikan sulit dipisahkan dari struktur masyarakat patriarki. Di satu sisi, pria memberi tahu struktur dalam mengakui kecantikan perempuan. Sementara itu, di sisi lain, perempuan terus berusaha untuk mendapatkan kepercayaan atas kecantikan mereka lewat pria.

Menurut survei di Februari 2008 oleh Litbang Kompas, 56,6% responden perempuan lebih tertarik pada wanita yang bukan berkulit putih daripada wanita yang berkulit putih. Sementara itu, 53,9% responden pria menyatakan bahwa mereka lebih tertarik pada wanita berkulit putih daripada wanita yang tidak berkulit putih. Analisis ini menunjukkan bahwa pria memiliki preferensi tertentu terhadap wanita yang berkulit putih, yang dianggap standar cantik yang menarik untuk digunakan dalam publik (Winarni, 2010).

Iklan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pembelahan informasi yang menimbulkan dorongan dan ajakan agar banyak orang tertarik dengan barang atau jasa yang ditawarkan. Iklan yang ditunaikan melalui sarana awam memiliki peran yang sangat berperan dalam membentuk kefahaman mengenai keindahan. Dalam kebanyakan iklan, wanita dianggap cantik jika ia muda, berkulit halus dan tidak kusam, wajah mulus tanpa noda dan berambut hitam lurus, serta memiliki tubuh yang langsing (RI Wijayanti, 2015). Iklan memberikan dampak yang besar terhadap persepsi masyarakat mengenai keindahan dan menimbulkan dampak yang buruk pada kesehatan mental yang menyebabkan merasa tidak percaya diri.

Phenomena citra kecantikan perempuan dalam iklan melahirkan pemahaman tentang kecantikan yang terbatas ke tubuh langsing dan kulit putih halus. Pemahaman ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kulit putih dianggap idaman banyak perempuan di Indonesia. Nasution (2007), Winarni (2010), menyebutkan bahwa media massa memegang peran signifikan dalam mewakili citra tubuh ideal perempuan. Pengaruh citra tubuh yang disiarkan oleh media sangat besar, sehingga banyak perempuan, mulai dari remaja, menjadi "terpukau". Gambar yang tampil di media dapat mempengaruhi pandangan individu terhadap peran sosial seseorang dan peraturan perilaku yang relevan dapat batasi ambisi beberapa orang.

Saat ini, produk Nivea yang terkait dengan kecantikan, mulai mengubah cara mereka menyajikan kecantikan melalui iklan-iklan mereka. Dulu, mereka hanya fokus pada standar kecantikan yang menampilkan kulit cerah dan model dengan penampilan tertentu, seusai ini Nivea mulai menampilkan model-model dengan variasi kulit dan ukuran tubuh dalam beberapa kampanye iklannya, dengan tujuan untuk menyebarkan pesan bahwa kecantikan bukan hanya ditentukan oleh penampilan fisik terbatas, melainkan dapat ditemukan dalam berbagai rupa dan warna.

Iklan produk Nivea juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan kulit sebagai elemen kecantikan, bukan hanya membuat kulit terlihat cerah. Dengan melakukan perawatan yang tepat dan menjalani pola hidup sehat, konsumen menyadari bahwa kecantikan sejati berasal dari kulit yang dirawat dengan baik dan sehat. Nivea membawa pesan penting untuk menghargai keunikan setiap individu, mulai dari warna kulit hingga bentuk tubuh. Penyampaian pesan ini sangat bermanfaat dalam mengurangi rasa bingung dan ketidaknyamanan karena standar kecantikan yang tidak realistis.

Nivea mencoba untuk menantang mitos kecantikan dengan menampilkan keberagaman dan hanya fokus pada kesehatan kulit, menciptakan standar kecantikan yang lebih nyata dan serbaguna. Pernyataan ini berharap masyarakat dapat memiliki pandangan menyangkut kecantikan yang berbeda.

Perwakilan standar kecantikan perempuan dalam iklan Nivea menunjukkan perjalanan yang rumit. Mulai dari fokus pada kulit cerah hingga usaha untuk menampilkan keberagaman serta kesehatan kulit. Nivea menunjukkan perkembangan pendapat mereka tentang konsep kecantikan. Meskipun masih ada kritik beraneka ragam, inisiatif yang diambil oleh mereka menuju terciptanya standar kecantikan yang lebih positif dan inklusif. Dengan terus mengubah strategi pemasaran mereka, Nivea dapat berkontribusi signifikan dalam perubahan di industri kecantikan dan membantu peradaban masyarakat tentang kecantikan yang lebih realistis.

No comments:

Post a Comment

8 Tips Percaya Lagi dengan Pasangan yang Pernah Berbohong, Bangun Kembali Hubungan

Tentu tidak mudah bagi ibu untuk membangun kembali kepercayaan. Meskipun begitu, hal itu tidak berarti tidak dapat dilakukan. ? ...