Friday, 27 December 2024

Pemeluk Islam-Buddha Baris Ucapkan Natal di Dusun Lereng Merbabu Semarang

Ribuan penduduk Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, berkumpul di depan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) El Shaddai untuk menyambut jemaat yang baru selesai menunaikan ibadah Natal, Jumat (25/12/2025) pagi.

Warga setempat yang memeluk agama Islam dan Buddha juga turut hadir dan berdiri berderet-deret serta melangkah ke istana.

Banyak yang tampak menangis terharu ketika menyambut dan mengucapkan selamat biasa, terutama perempuan.

Salah satu faktor adalah kebiasaannya bermaaf-maafan, seperti apa yang dilakukan saat Hari Raya Idulfitri oleh umat Islam.

Tradisi tersebut telah menjadi bagian penting dalam masyarakat di lereng Gunung Merbabu, yang terkenal karena catatan toleransi dan keharmonisan tingkat tinggi di antara kelompok-kelompok keagamaan yang berbeda.

Kepala Dusun Thekelan, Agus Supriyo mengatakan bahwa tradisi itu telah menjadi kearifan lokal masyarakatnya sejak awal "hari besar keagamaan", termasuk Idul Fitri dan Waisak.

Komunitas ini dihuni oleh sekitar total 720 penduduk yang masing-masing menganut empat peradaban, yakni Kristen, Katolik, Islam dan Buddhisme.

"Pikiran katakan selamat, tapi ada rasa terharu dan ikhlas bermaaf-maafan sehingga sampai menangis," kata lelaki yang dikenal sebagai Tarsan.

Dia berharap kearifan lokal yang khas dan dipunyai oleh daerahnya harus tetap terpelihara dan dilestarikan.

Menurut Tarsan, suasana permukiman yang sejuk di daerah tingkat ketinggian lebih dari 1.600 meter di atas permukaan laut menimbulkan rasa lebih nyaman, sehingga penduduk di sana saling mengenal dengan baik satu sama lain.

Tradisi ini telah hidup sejak zaman nenek moyang yang lalu.

"Perayaan Maulid ini ternyata mulai disambut kembali dari tahun 2010," ungkapnya.

Mereka menyajikan hidangan-hidangan tradisional pada hari raya, salah satunya adalah opor.

Sementara itu, seorang jemaat paska perayaan Natal di gereja tersebut, Juni Suyanti (30) mengaku, merasa gembira atas ucapan selamat tahun baru dan harap-haripun dari warga di dusunnya.

Dia sangat memintakan suasana itu selama bertahun-tahun.

Pasalnya, pada momentum Natal 2022 yang lampau, dia tidak bisa ikut serta dalam kegiatan bersalaman dengan masyarakat.

Aku menangis, terharu karena dulunya aku tidak bisa melakukannya, namun sekarang aku dapat melakukannya.

"Nanti ketika Idul Fitri dan Waisak tiba, saya juga akan menyampaikan selamat kepada semua orang Islam dan Budha," ujar Juni.

No comments:

Post a Comment

8 Tips Percaya Lagi dengan Pasangan yang Pernah Berbohong, Bangun Kembali Hubungan

Tentu tidak mudah bagi ibu untuk membangun kembali kepercayaan. Meskipun begitu, hal itu tidak berarti tidak dapat dilakukan. ? ...