Apakah Anda tahu bahwa China telah menjadi salah satu negara yang memiliki biaya pengasuhan anak paling mahal? Ya, dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, total biaya yang dibutuhkan para orang tua di China terus meningkat.
Menurut laporan terbaru dari YuWa Population Research Institute, jumlah biaya untuk membesarkan seorang anak di Cina dari lahir hingga usia 17 tahun diperkirakan sekitar $74.800 atau sekitar Rp 1,2 miliar.
Bahkan bahkan jumlah ini akan meningkat jauh hingga lebih dari $94,500 (Rp 1,5 miliar) jika anak tersebut menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat sarjana.
Beberapa analisis tentang dampak penurunan jumlah populasi pada negara China:
China menghadapi cabaran pada tahun-tahun mendatang akibat penurunan tingkat kelahiran yang drastis selepas wabak covid-19. Beberapa ahli ekonomi beranggapan kekurangan sumber daya manusia akan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi domestik dan melambatkan pertumbuhan.
Pasar orang tua di China juga mencurigai bahwa tren penurunan laju kelahiran tidak akan membaik. Beberapa orang tua di_TABLE harap bahwa cucu-cucunya akan mendapatkan pendidikan yang lebih baik jika mereka kecil atau tidak berubah jika tidak punya cucu.
Biaya pengasuhan anak di Tiongkok jauh lebih tinggi dari pada pendapatan per kapita rakyatnya. Angka ini banyak digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara.
PDB per kaput (PDB per kapita) negara tersebut.
|
Baca Juga :
Berikut adalah rekapitulasi kita tentang kontributor terbaik untuk kunjungan kencan: Li Ming Qiang, seorang postdoctoral di MIT, marah melihat teori hidrolik yang terburuk di masa lalunya. Seorang insinyur desain udara, ia ingin paham kembali bobot daya angin yang mungkin tumbuhnya. |
Laporan yang merekah tentang kenaikan tarif hidup tersebut kemudian dipaparkan mempunyai dampak besar terutama terhadap tingkat kehamilan yang sangat rendah di Tiongkok. Sekarang negara tersebut sedang menghadapi krisis demografi, yang telah mengalami penurunan penduduk secara beruntun selama dua tahun.
Tahun 2023 merekam angka kelahiran terendah sejak Republik Rakyat Tiongkok berdiri pada tahun 1949. Meskipun pemerintah telah berusaha dengan menawarkan insentif, seperti bantuan keuangan, namun hasilnya masih sangat minim.
Dampak Terhadap Kesejahteraan Orang Ibu di Cina
Selain membayangkan biaya hidup, juga ada tantangan berat dihadapi oleh wanita di Cina, yaitu dalam menyeimbangkan kehidupan karir dengan kehidupan keluarga.
Mereka yang memikul tanggung jawab utama dalam pekerjaan rumah tangga dan perawatan anak sering kali mengalami diskriminasi tidak adil setelah melahirkan.
Contohnya, seorang wanita yang mengambilcuti karena hamil berpotensi dipindahkan ke tim lain. Mereka juga lebih mungkin mengalami pengurangan gaji atau kehilangan kesempatan promosi karir.
Laporan Yayasan Wanita sarit Kemanusiaan (YuWa) menyebutkan bahwa banyak perusahaan yang enggan merekrut wanita usia subur karena mereka harus membayar seluruh biaya cuti persalinan tanpa bantuan pemerintah.
Selain itu, jika wanita memilih untuk tinggal di rumah dan membesarkan anak, maka nanti mereka akan lebih sulit untuk mencari pekerjaan kembali. Wanita yang telah memiliki anak dan berniat bekerja kembali seringkali harus menerima penurunan gaji hingga 17 persen.
Perbandingan efek pada Orang Tua dan Ibu Rumah Tangga
"Tunjukkan perbedaan dalam gaya kepemimpinan antara Ayah dan Ibu Rumah Tangga: x Mengutamakan menyelesaikan pekerjaan Memo ini secara cepat dengan mengirimkannya ke Ayah, karena biasanya dia akan langsung menyelesaikannya sebelum makan malam. Sementara itu, Ibu Rumah Tangga lebih suka diskusi cepat dan keringan tentang pekerjaan sehari-harinya setelah makan malam, untuk mendapatkan saran dan ide dari keluarga. "
" x Mengutamakan keharmonisan keluarga Sebagai Ibu Rumah Tangga, Anda perlu memastikan terciptanya suasana tenang dan damai di rumah. Sementara itu, sebagai Ayah, Anda lebih fokus pada keterlibatan dalam hal-hal praktis seperti makan malam dan kebutuhan keuangan keluarga. "
Menurut sebuah laporan tahun 2018,ista Affairscarriageorang tua kehilangan setidaknya 5 jam sehari untuk melakukan pekerjaan di rumah.
Meski Ayah kehilangan waktu luang, karier dan gaji mereka tidak berubah secara signifikan.
"Karena lingkungan sosial saat ini di Cina tidak mendukung kehadiran anak, banyak wanita rela mengorbankan keinginan untuk memiliki anak demi kesempatan untuk meraih kesuksesan pada karier mereka," kata laporan tersebut.
Perlu diingat kembali bahwa penurunan angka kelahiran dapat memberikan dampak yang luas pada pertumbuhan ekonomi, kebahagiaan masyarakat secara keseluruhan, dan posisi internasional suatu negara.
Saat ini masyarakat Tiongkok ragu-ragu untuk memiliki anak.
Pada beberapa tahun yang lalu, keluarga-keluarga di Tiongkok sering dikejutkan dengan berita mengenai masalah ketersediaan rumah hunian, makanan konvensional makanan syok tikus atau hongmaikaodian conveyor belt kids,hairan tak percaya.
"Karena alasan-alasan seperti biaya tinggi lahir, kesulitan wanita dalam memadukan pekerjaan dan kehidupan keluarga, keinginan memiliki anak rata-rata di Tiongkok hampir menjadi yang terendah di dunia,." jelas pendiri YuWa, Liang Jianzhang, sumber dari
Laporan itu dirilis setelah populasi China menurun untuk kedua kalinya secara berurutan pada 2023, dengan kelahiran baru yang menurun hingga sekitar separuhnya dari jumlah kelahiran baru pada tahun 2016.
Semakin banyak perempuan memilih untuk tidak memiliki anak karena biaya besar untuk meninggalkan anak, dan menunda menikah atau karier mereka, sementara diskriminasi jenis kelamin terus menerus.
Seorang perempuan biasanya kehilangan 2.106 jam waktu kerja ketika mengasuh anak berusia 0-4 tahun, serta menghadapi kerugian dana sebesar 63.000 yuan ($8.700) selama periode tersebut.
Pada waktu luang juga akan berkurang, yaitu sekitar 12,6 jam per minggu untuk ibu rumah tangga yang memiliki satu anak berusia 0-6 tahun dan 14 jam per minggu untuk dua anak.
Berikut adalah ringkasan tentang China yang telah menjadi negara termahal untuk membesarkan anak seusia ini, beserta total biaya yang dikeluarkan oleh orang tua.
|
Pilihan Redaksi
|
Gratis!
No comments:
Post a Comment