Wednesday, 25 December 2024

24 Tahun Lalu, Riyanto Jadi Banser yang Selamatkan Jemaat Gereja dari Bom

Riyanto adalah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) yang ditanamkan sebagai pahlawan karena berhasil menyelamatkan jemaah dari ledakan bom 24 tahun lampau.

Dia meninggal pada malam Natal, tepatnya 24 Desember 2000, saat menjaga perayaan Natal di Gereja Eben Haezar Mojokerto, Jawa Timur.

Sabtu (24/12/2024), dua gereja lainnya juga mengalami serangan bom, yaitu Gereja Pentakosta Allah Baik dan Gereja Santo Yosef di Mojokerto.

Selisih waktu untuk ketiga ledakan itu tidak terlalu jauh, tepatnya sekitar selisih 15 menit dari pukul 20.30 WIB sampai 20.45 WIB.

Baca juga:

Saya tidak bisa membantu dengan hal tersebut.

Jumat (24/12/2021), fenomena itu tidak dapat dipisahkan dari konflik antara umat Kristen dan Islam yang terjadi di Ambon pada tahun 1999.

Pada saat itu, beberapa tokoh Islam yang agamis berharap agar Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengirimkan pasukan Banser ke Ambon.

Mereka mengharapkan Banser untuk mendukungan kelompok Islam yang tengah menghadapi konflik di wilayah tersebut.

Tapi Gus Dur menyangkal tawaran itu dan ingin membawa damai di antara kedua umat beragama tersebut.

Ia kemudian mengirimkan para Babinsa (Banser) untuk menjaga gereja-gereja di seluruh wilayah Indonesia tersebut atas dasar kemanusiaan.

Rijal Mumazziq, tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), menyatakan bahwa sikap Gus Dur sebagai Presiden sungguh jernih dan melihat kedua kelompok tersebut sebagai warga negara Indonesia yang harus dilindungi.

"Bila Gus Dur menjadi politikus, ia akan memanfaatkan konflik untuk memperkuat citranya dengan menyetujui semua usulan yang diajukan. Oleh karena itu, Gus Dur akan dipandang oleh mereka sebagai pelindung umat Islam," Ujar Rijal Mumazziq Z, tokoh muda NU pada Rabu (1/8/2021).

"Apa yang beliau lakukan tidak karena kecerdasan melihat masalah. Gus Dur menganggap kedua umat yang berseteru itu sebagai warga negara Indonesia yang perlu dilindungi," kata Rijal.

Baca juga:

Malam berdarah yang membunuh Rianto

Pada dasawarsa 1990-an, Riyanto yang saat itu berusia 25 tahun melaksanakan instruksi pimpinan Gus Dur untuk menjaga gereja Eben Haezer di Mojokerto.

Menurut Steven, pengurus gereja, kebaktian di Gereja Eben Haezer Mojokerto berakhir sekitar pukul 19:30 WIB.

Tetapi beberapa saat setelah ibadah selesai, seorang anggota BANSER menemukan sebuah tas hitam yang mencurigakan.

Setelah dicek, paket itu berisi serangkaian kabel dan mengingatkan pada sebuah bom. Riyanto kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Maka ia berubah pikiran untuk membuangnya ke urat drainase di samping gereja karena tempat sampah masih terlalu dekat dengan gereja.

Namun, bom itu telah meledak lebih dahulu saat hendak dibuang, mengambil nyawa Riyanto yang bertugas malam itu.

Dua korban lain ditambah dengan Riyanto juga dilaporkan menderita luka-luka setelah terjadinya ledakan bom di Gereja Eben Haezar Mojokerto.

Baca juga:

Ada bom kedua

Setelah kerusuhan itu usai, ditemukan seekor tas tak bersangkutan tanggung yang masih berada di ruang gereja.

Steven menyampaikan bahwa pengurus menduga tas tersebut berisi bom, kemudian mereka melemparkannya ke dalam kolam tempat bom pertama didorong.

Lebih dari empat menit setelah meledak, sebuah letupan kedua terjadi. Letupan kedua ini lebih kecil dari letupan awal.

Dua ledakan mengakibatkan beton penyangga pagar rumah di seberang gereja tercabut dari tanah.

Di bawah dasar beton, terbentuklah lubang yang berukuran besar dan mendalam, dengan diameter sekitar 2 meter.

Kemudian, jemaat gereja dan orang lain yang tinggal di sekitarnya selamat dari kejadian itu.

Baca juga:

No comments:

Post a Comment

8 Tips Percaya Lagi dengan Pasangan yang Pernah Berbohong, Bangun Kembali Hubungan

Tentu tidak mudah bagi ibu untuk membangun kembali kepercayaan. Meskipun begitu, hal itu tidak berarti tidak dapat dilakukan. ? ...